Di balik tenda-tenda itu, ada sosok sederhana namun penuh tekad. Dia adalah I Gede Ardita.
I Gede Ardita membangun usahanya dari nol. Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut semakin berkembang.
Bahkan, kini menjadi salah satu penyedia jasa tenda terbesar di Provinsi NTB.
Jalannya memang berliku. Pahit getir telah dirasakannya.
Tapi, bagi pria kelahiran 18 Agustus 1971 itu, pasang-surut sebuah usaha adalah keniscayaan.
Karena itu, ketika gelombang menghantam, dia pantang menyerah.
Ardita mengatakan, Pandemi COVID-19 menjadi masa paling berat dalam perjalanannya.
Semua acara dibatalkan, pemasukan nyaris nol. Tapi Ardita tidak menyerah. Ia tetap menggaji karyawannya meski dengan jumlah terbatas.
Sejak muda, Ardita tak pernah takut mencoba. Tamat SMA pada tahun 1989, ia sempat kuliah namun tidak sampai wisuda.
“Waktu itu ekonomi keluarga pas-pasan. Saya harus cepat bekerja,” kenangnya.
Ia kemudian merantau dan bekerja di sebuah bank selama lima tahun, dari 1991 hingga 1996. Namun, jalan hidupnya berbelok.
Ia memilih keluar dari kenyamanan kantor dan bekerja sebagai petugas cuci mobil di Mataram.
Baca Juga: DPRD Lombok Utara Duga Ada Kesalahan Diagnosa dalam Kasus Kematian Bayi Winda Astuti
Pada tahun 2004, setelah menikah, Ardita kembali ke kampung halamannya di Lombok Utara. Ia menjadi sopir travel.
Profesi itu dijalaninya selama empat tahun. Namun, di sela-sela pekerjaannya, pikirannya sudah dipenuhi rencana besar.
“Sekitar enam bulan sebelum saya berhenti kerja, saya sudah menabung dan menyusun rencana. Saya ingin punya usaha sendiri, sesuatu yang bisa saya bangun dari bawah,” tuturnya.
Dan akhirnya, awal tahun 2008, dengan modal sekitar Rp 25 juta, ia mendirikan UD Gayatri Tenda. Ia memulai membuka saha penyewaan tenda yang kala itu hanya punya enam unit tenda sederhana.
Ternyata, sambutan masyarakat luar biasa. Dari enam unit tenda, kini usahanya tumbuh pesat hingga memiliki sekitar 200 unit tenda.
Layanannya pun berkembang. Ada tenda kelas standar, VIP, hingga premium.
“Tenda VIP biasanya sudah lengkap dengan dekorasi dan plafon, sedangkan tenda premium lebih megah, warnanya bisa disesuaikan dengan permintaan,” jelasnya.
Namun bagi Ardita, keberhasilan bukan sekadar soal jumlah tenda atau omzet. Yang paling penting adalah menjaga kepercayaan pelanggan.
"Karena konsumen itu raja, dan kalau kepercayaan hilang, semuanya hilang,” kata pria kelahiran 18 Agustus 1971 itu.
Kini, Ardita memiliki tujuh karyawan tetap yang semuanya digaji di atas UMR. Bahkan gajinya hampir Rp 5 juta per bulan.
Ia juga dipercaya sebagai ketua paguyuban vendor yang membawahi sekitar 70 pelaku usaha, mulai dari penyedia dekorasi hingga sound sistem.
Dalam sebulan, omzet usahanya kini mencapai rata-rata Rp 100 juta, dan bisa tembus Rp 200 juta di musim ramai.
Sebagian besar pelanggan datang dari instansi pemerintahan yang sudah mempercayainya sejak 2008.
Kini, UD Gayatri Tenda bukan hanya menjadi simbol kesuksesan usaha lokal, tapi juga inspirasi bagi banyak anak muda Lombok Utara.
Ardita membuktikan, bahwa kesuksesan tidak datang dari latar belakang, tapi dari kemauan untuk terus berusaha.
Editor : Siti Aeny Maryam