Dari proses pendampingan yang dilakukan, kelak di harapkan akan tumbuh kesadaran bersama, bahwa disabilitas juga punya talenta.
Pagi itu terasa hangat. Bukan hanya oleh matahari, tetapi oleh semangat para peserta yang berkumpul.
Di tengah panggung sederhana, seorang penyandang disabilitas berdiri dengan satu kruk di sisi tubuhnya.
Dengan tangan kanan memegang mikrofon, ia berbicara penuh percaya diri.
Lukisan berwarna cerah berdiri di depan kanvasnya. Goresannya tampak luwes, penuh warna merah muda, hijau, dan biru, menggambarkan imajinasi bebas anak-anak disabilitas yang selama setahun terakhir mendapatkan pendampingan dari Yayasan LombokCare.
Di panggung perayaan HDI itu, hasil-hasil terapi terlihat nyata.
Goresan di kanvas, postur tubuh yang lebih stabil, senyum lebar orang tua, dan gestur percaya diri para peserta menjadi bukti bahwa pendampingan yang tepat dapat membuka ruang baru bagi penyandang disabilitas.
Ketua Yayasan LombokCare Apip Sutardi mengaku, pihaknya telah melakukan pendampingan intensif sepanjang tahun 2025 di Kecamatan Bayan.
Program tersebut berupa terapi serta pengembangan bakat seni lukis pada kanvas.
Apip mengaku, pendampingan tersebut belum menjangkau seluruh desa. Baru 8 dari 12 desa di Kecamatan Bayan yang tersentuh.
Artinya, masih banyak keluarga yang belum memperoleh layanan.
Namun di desa dampingan itu, Apip mengaku sudah terlihat ada perubahan besar. Anak-anak bukan hanya belajar mengenal cat air, tetapi juga mengenal kemampuan dirinya bahwa mereka bisa menghasilkan karya bernilai dan dipamerkan di depan publik.
Orang tua pun merasakan manfaatnya. Banyak dari mereka mulai memahami pentingnya terapi dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Mereka dilatih langsung oleh terapis tentang cara memberikan stimulasi sesuai tahap perkembangan.
Hasilnya terhadap tumbuh kembang anak mulai terlihat. Seperti ada anak yang awalnya kesulitan duduk, sudah bisa duduk secara mandiri.
Menurut Apip, ini progres cukup bagus. Mereka bukan hanya berkembang secara fisik, tetapi juga semakin berani tampil dan berkarya.
Sementara itu, Apip mengaku, tema Hari Disabilitas Internasional tahun ini “Setara, Berdaya, Berkarya Tanpa Batas”.
Ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah pengingat bahwa setiap individu memiliki potensi.
Kegiatan ini juga menghadirkan harapan baru. Dari proses pendampingan, masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan sadar, bahwa penyandang disabilitas membutuhkan wadah yang lebih permanen untuk mengembangkan bakatnya.
”Kami ingin pemerintah sadar bahwa disabilitas punya talenta,” kata Apip.
Kolaborasi tentu sangat dibutuhkan. Dengan pemberdayaan penyandang disabilitas, mereka akan mampu berkarya, dan layak mendapatkan ruang yang setara.
Apip berharap, ke depan pendampingan terus diperluas hingga mencakup seluruh desa di Kecamatan Bayan.
Editor : Siti Aeny Maryam