LombokPost – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mencatat sebanyak 15 kasus gizi buruk sepanjang tahun 2025.
Kasus-kasus tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan, dengan mayoritas disertai penyakit penyerta sehingga membutuhkan penanganan medis yang intensif dan berkelanjutan.
Kepala Dikes KLU Lalu Bahrudin menjelaskan, bahwa dari total kasus tersebut, sekitar 5 persen yang tergolong gizi buruk murni.
Sementara sisanya diperberat oleh penyakit kronis seperti infeksi saluran pernapasan, anemia, dan gangguan kesehatan lainnya.
Rata-rata setiap puskesmas menangani 2 hingga 3 kasus gizi buruk. Kata Bahrudin, ini menunjukkan, bahwa masalah gizi bukan hanya soal asupan makanan.
Tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi kesehatan dan lingkungan.
Berdasarkan data Dinkes KLU, Kecamatan Gangga menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak yakni 8 kasus.
Disusul Kecamatan Pemenang 3 kasus, Kecamatan Kayangan 3 kasus, serta masing-masing 1 kasus di Kecamatan Bayan, dan Tanjung.
Di awal tahun 2026 ini, sudah ada beberapa kasus yang muncul. Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah seorang anak laki-laki berusia 4,6 tahun asal Dusun Panggung Barat, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan.
Anak bernama Muhammad Gibran ini terdeteksi mengalami gizi buruk tipe marasmus stadium berat. Kondisi tersebut diketahui telah berlangsung cukup lama dan diperparah oleh penyakit penyerta.
“Pasien mengalami pneumonia yang sering kambuh serta anemia. Riwayat imunisasi yang nihil membuat daya tahan tubuhnya sangat rendah,” jelas Bahrudin.
Saat ini, pasien tengah menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit rujukan, setelah sebelumnya beberapa kali dirujuk ke rumah sakit provinsi.
Nana, seorang pegawai bagian gizi di Dinkes KLU mengaku, terhadap telah dilakukan intervensi berupa pengobatan, pemberian makanan tambahan (PMT), konseling keluarga, serta pemantauan intensif pasca perawatan.
Ke depan, tambahnya, penanganan gizi buruk akan diperkuat melalui pendekatan lintas sektor. Ini sesuai dengan arahan Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar.
Intervensi juga menyasar faktor pola asuh keluarga, sanitasi lingkungan, serta akses air bersih dan pangan bergizi.
“Kami akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah desa, kader posyandu, dan sektor terkait agar penanganan gizi buruk menyentuh akar persoalan sosial,” katanya.
Editor : Marthadi