Pagi itu, langit di atas Alun-alun Tioq Tata Tunaq tampak cerah. Di jantung pemerintahan Kabupaten Lombok Utara, sejumlah warga berkumpul menyaksikan momen yang tak biasa itu. Yaitu deklarasi peradaban kurma dunia.
Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar memastikan, deklarasi itu bukan sekadar seremoni.
Lebih dari itu, jadi penanda arah baru pembangunan daerah. Kurma, kata dia, akan diposisikan sebagai ikon baru Bumi Tioq Tata Tunaq.
Dengan potensi besar itu, kurma tidak hanya ditanam. Tetapi ingin menghasilkan kualitas dan menjadi daerah penghasil kurma unggulan.
"Dan akan diikuti kebijakan nyata," tegas Najmul Akhyar.
Pemerintah daerah berkomitmen mengalokasikan anggaran untuk pengembangan kurma agar benar-benar menjadi ikon daerah.
“Tidak fair kalau hanya deklarasi lalu kita tinggalkan. Pemda akan melakukan sesuatu untuk mengembangkan kurma ini,” katanya.
Dukungan riset pun mulai dirangkul. Brida dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) disebut siap mendukung pengembangan teknologi dan inovasi budidaya.
Bahkan, rencana jangka panjang sudah menyentuh sektor manufaktur.
“Sangat memungkinkan ke depan. Kita tanam dulu, pabriknya belakangan,” ujar Najmul optimistis.
Gagasan itu menandai ambisi hilirisasi. Yaitu berawal dari kebun rakyat menuju industri pengolahan.
Dengan begitu, kurma tidak hanya dipanen sebagai buah segar, tetapi berpotensi diolah menjadi produk turunan bernilai tambah.
Pemda KLU juga membuka peluang munculnya gerakan bersama. Bentuknya, pemerintah akan membuat kebijakan penanaman kurma di kantor pemerintahan dan sekolah.
“Nanti tentu diikuti petani. Akan kita bina, kita bimbing, kita fasilitasi teknologinya, pemasarannya, dan sebagainya,” jelasnya.
Fokus saat ini, kata Najmul, membangun gagasan besar dan optimisme bersama. Kemudian, diikuti dengan langkah konkret.
“Sekarang kita bicara ide besarnya dulu. Saya dan Pak Wakil Bupati mendeklarasikan kurma menjadi salah satu ikon Lombok Utara ke depan," imbuhnya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Lombok Utara Tresnahadi, saat ada sekitar 3.007 pohon yang sudah ditanam.
Jumlah itu disebutnya belum mencerminkan keseluruhan populasi. Masih banyak pohon kurma di pelosok desa yang belum terdata karena tumbuh secara masif.
Kemudian, ada 224 pohon yang telah berbuah dan ratusan lainnya bersiap produktif.
Menurut Tresnahadi, ini menegaskan bahwa, kurma bukan hanya ikon. Tetapi bisa menjadi identitas ekonomi baru.
Editor : Redaksi Lombok Post