Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda KLU mengundang para remaja masjid untuk rapat koordinasi, Jumat (27/2).
Kabag Kesra Setda KLU H. Sudirman mengatakan, rapat koordinasi sengaja dilakukan lebih awal guna mengantisipasi berbagai potensi persoalan teknis di lapangan.
Pihaknya ingin memastikan pelaksanaan pawai berjalan lebih tertib dengan sistem yang terstruktur dan aturan yang diperketat.
Sedikitnya 35 remaja masjid dari lima kecamatan telah mengambil nomor peserta.
Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah hingga mendekati hari pelaksanaan.
Dalam rapat tersebut, disepakati sistem penilaian yang lebih komprehensif. Panitia membagi penilaian dalam tiga kategori utama.
Pertama penilaian Gema Takbir, yang menilai kekuatan syiar dan kemeriahan lantunan takbir.
Kemudian Miniatur dan Lampion, yang menilai kreativitas visual peserta.
Penilaian terakhir Keutuhan dan Kerapian Barisan, yang meliputi kekompakan serta disiplin peserta.
Menurut Sudirman, sistem ini dirancang agar penilaian lebih adil dan tidak hanya berfokus pada kemegahan miniatur.
“Semua aspek kita apresiasi. Tidak hanya besar dan meriah, tetapi juga rapi, kompak, dan sesuai aturan,” tegasnya.
Panitia tetap memperbolehkan penggunaan sound system, toa hingga penggunaan alat musik kecimol.
Tetapi dengan catatan, volume tidak berlebihan dan tetap menjaga kenyamanan antar peserta.
Sementara itu, desain miniatur dilarang menyerupai makhluk hidup. Tema yang diperbolehkan difokuskan pada simbol religius seperti masjid, Alquran, Ka’bah, atau perahu bernuansa Islami dengan identitas spanduk yang jelas.
Untuk rute, garis start dan finish di Alun-alun Tioq Tata Tunaq. Dari Aun-alun peserta bergerak ke arah barat hingga sampai di sebuah angkringan di Desa Medana, Kecamatan Tanjung.
Kemudian balik lagi ke timur menuju garis finish. "Ada delapan dewan juri yang ditempatkan di beberapa titik sepanjang rute," tutup Sudirman.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin