Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjaga 'Napas' Sakral Labuan Carik, Langkah Masyarakat Adat Bayan Lawan Gerusan Zaman

Habibul Adnan • Kamis, 9 April 2026 | 08:04 WIB
Suasana pelaksnaan  FGD Nyangkar Carik di Labuan Carik, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)
Suasana pelaksnaan FGD Nyangkar Carik di Labuan Carik, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)

 

LombokPost - Di pesisir Lombok Utara, kawasan Labuan Carik, Kecamatan Bayan menyimpan jejak panjang sejarah dan spiritualitas masyarakat adat. Dulu, ruang ini bukan sekadar tempat berlabuh, tetapi juga menjadi titik sakral yang menyatu dengan ritual, nilai, dan pranata adat.

Namun kini, wajah Labuan Carik perlahan berubah menjadi ruang ekonomi dan logistik yang terus bergerak mengikuti arus zaman. Aktivitas perdagangan, transportasi, hingga mobilitas wisata memberi kehidupan baru bagi kawasan tersebut.

Namun di balik geliat ekonomi itu, terselip kekhawatiran. Yaitu hilangnya makna ruang yang selama ini menjadi identitas masyarakat Bayan. Kekhawatiran itu mengemuka dalam FGD bertema Nyangkar Carik: Menata Ulang Ruang, Menata Ulang Nilai.

Baca Juga: Sengketa Berakhir! Pemda KLU Eksekusi Pustu Senaru, Langsung Difungsikan untuk Posyandu

Forum ini menjadi ruang temu antara pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan masa depan Labuan Carik. Bagi masyarakat adat, Labuan Carik bukan sekadar ruang fisik. Tapi bagian dari ingatan kolektif, tempat di mana nilai-nilai diwariskan dan dijalankan.

Salah satu tokoh adat Lombok Utara Lalu M. Husni Ansyori menegaskan, bahwa menjaga keterhubungan antara adat, masyarakat, dan ruang hidup adalah hal yang tidak bisa ditawar. Tanpa identitas budaya, katanya, Labuan Carik hanya menjadi ruang ekonomi biasa.

Menurutnya, pendekatan berbasis adat justru membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan. Nilai budaya yang terjaga akan menjadi kekuatan, bukan hambatan, dalam menghadapi perubahan.

Ia juga mengingatkan bahwa saat ini merupakan momentum penting. Jika tidak segera ditata, bukan hanya identitas budaya yang terancam hilang, tetapi juga potensi konflik dan melemahnya legitimasi adat.

Baca Juga: Pemkab Lombok Utara Usul 92 Formasi ASN 2026, Skema Zero Growth Jadi Kunci

Gagasan untuk menata ulang Labuan Carik melalui pendekatan Nyangkar Carik dinilai sebagai jalan tengah. Melalui pendekatan ini, penataan ruang tidak hanya berbasis fungsi, tetapi juga makna. ”Ruang sakral tetap dijaga, ruang sosial-budaya diperkuat, dan ruang ekonomi diarahkan agar tidak menggerus identitas,” katanya.

Selain itu, upaya ini juga menyasar penguatan kelembagaan adat. Peran-peran seperti syahbandar adat, aturan awik-awik, hingga ritual seperti Selamat Labuan didorong untuk kembali hidup dan relevan dalam konteks kekinian.

Inisiator kegiatan FGD Ari Garmono menambahkan, bahwa Nyangkar Carik bukan sekadar upaya romantisme masa lalu. Akan tetapi menjadi langkah konkret untuk menyambungkan kembali adat dengan realitas hari ini.

Editor : Pujo Nugroho
#adat bayan #Nyangkar Carik #Labuan Carik #Masyarakat Adat Bayan #Lalu M. Husni Ansyori