Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ritual Taek Lauk di Montong Gedeng, Jejak Datu yang Dijaga Warga Kayangan Lombok Utara

Habibul Adnan • Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:45 WIB
PENGHORMATAN LELUHUR: Warga Kayangan saat melaksanakan ritual adat Taek Lauk di Montong Gedeng, tahun lalu.
PENGHORMATAN LELUHUR: Warga Kayangan saat melaksanakan ritual adat Taek Lauk di Montong Gedeng, tahun lalu.

LombokPost - Di kaki perbukitan Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, terdapat sebuah tempat yang hingga kini masih diselimuti kisah sakral dan kepercayaan turun-temurun masyarakat adat. Tempat itu dikenal sebagai Montong Gedeng.

Tempat ini diyakini ada sebuah makam tokoh yang bernama Raden Panji Maskolong.

Di sinilah warga Desa Kayangan setiap tahun menggelaf ritual adat "Taek Lauk".

Bagi warga setempat, ritual ini bukan sekadar tradisi tahunan. Taek Lauk merupakan napak tilas perjalanan seorang tokoh yang dipercaya memiliki hubungan persaudaraan dengan Datu Sesait pada masa lampau.

Kepala Desa Kayangan Edi Kartono, menuturkan bahwa kisah itu bermula ketika Raden Panji Maskolo datang menghadap Datu Sesait. Tokoh itu mengaku sebagai saudara sang datu.

Sebagai tanda persaudaraan, Datu Sesait kemudian memberikan seutas benang kepada Raden Panji Maskolo.

Baca Juga: Guru di Wilayah Terpencil KLU Kehilangan Tunjangan Khusus

“Datu Sesait meminta benang itu dibentangkan. Beliau berpesan, kalau ujung benang saling bertemu berarti kamu saudara saya,” tutur Edi.

Benang itu kemudian dibentangkan sepanjang perjalanan. Namun, sebelum sampai tujuan, Raden Panji Maskolo dikisahkan meninggal dunia di wilayah Kecamatan Kayangan.

Meski demikian, menurut cerita turun-temurun masyarakat, jasadnya masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya.

Jenazah Raden Panji Maskolo kemudian dibawa melewati sejumlah dusun di Desa Kayangan.

Mulai dari Dusun Lebari, Berirangan, hingga Sidutan. Sesampainya di Dusun Sidutan, Raden Panji Maskolo meminta agar jasadnya ditinggalkan di tempat tersebut. 

Ia juga berpesan kepada para pengikutnya agar tidak ada seorang pun yang menoleh ke belakang setelah meninggalkannya.

Baca Juga: Pemda Lombok Utara Siapkan Rp 6 Miliar untuk Guru Honorer 

Namun dalam perjalanan, rasa penasaran membuat salah seorang pengikut menoleh. 

Saat itulah, menurut cerita masyarakat, muncul kepulan asap dari lokasi makam dan tanah di tempat itu perlahan naik membentuk bukit.

“Tanahnya terus naik membentuk perbukitan. Ketika ada yang menoleh, tanah itu berhenti naik,” kata Edi.

Lokasi tersebut kini dikenal sebagai Montong Gedeng, yang dipercaya sebagai makam Raden Panji Maskolong dan dikeramatkan masyarakat adat setempat.

Setiap tahun, tepat pada tanggal 16 berdasarkan perhitungan tokoh adat, masyarakat menggelar ritual Taek Lauk di kawasan itu. 

Tahun ini, ritual dijadwalkan berlangsung pada Bulan Agustus mendatang. Persiapan biasanya telah dimulai sebulan sebelum pelaksanaan. Warga adat bergotong royong menyiapkan berbagai keperluan ritual.

Di antara bentuk ritual adalah penyembelihan kambing di bawah bukit. Sementara di puncak Montong Gedeng, masyarakat menggelar doa-doa dan zikir adat sambil membawa dulang berisi sesaji.

Baca Juga: Ribuan Titik Lampu Jalan di Lombok Utara Belum Optimal

“Di atas itu dilaksanakan ritual, ada zikiran dan membawa dulang,” ujar Edi.

Meski disebut sebagai ritual adat, masyarakat memaknai Taek Lauk sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Yaitu untuk menapak tilas perjalanan Raden Panji Maskolo.

Edi menerangkan, warga percaya, apabila ritual  tidak dilaksanakan, akan muncul berbagai pertanda buruk.

Seperti menurunnya hasil pertanian masyarakat. “Produktivitas pertanian bisa berkurang,” katanya.

Selain dikenal sebagai tempat sakral, Montong Gedeng juga menyimpan berbagai cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satunya mengenai keberadaan harta karun yang dipercaya tersimpan di kawasan makam.

Edi mengaku pernah didatangi seseorang dari Jawa yang meminta izin kepadanya untuk bersemedi di lokasi tersebut. Dari orang inilah muncul pengakuan bahwa di sana ada gudang harta karun.

"Katanya kalau bisa menjinakkan naga, bisa mendapatkan harta itu,” ungkapnya.

Terlepas dari berbagai kisah mistis yang menyelimuti Montong Gedeng, menurut Edi, ritual Taek Lauk tetap menjadi warisan budaya yang perlu terus dijaga.

Sebab di balik cerita legenda dan kepercayaan adat itu, tersimpan nilai kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur.

Editor : Kimda Farida
#Raden Panji Maskolo #datu kayangan #kayangan lombok utara #kepala desa kayangan #edi kartono