Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nestapa Peternak Madu Trigona Lombok Utara, Mimpi Ekspor 50 Ton ke Dubai Buyar Diterjang Perang Timur Tengah

Habibul Adnan • Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:26 WIB
TIDAK BISA EKSPOR: Madu milik Sahlan gagal kirim ke Uni Emirat Arab dan Dubai akibat konflik Timur Tengah.
TIDAK BISA EKSPOR: Madu milik Sahlan gagal kirim ke Uni Emirat Arab dan Dubai akibat konflik Timur Tengah.

LombokPost - Konflik Timur Tengah berdampak terhadap pengusaha madu Terigona. Ribuan botol madu, lengkap dengan label kemasan yang sudah siap ekspor malah tertahan di gudang.

Konflik yang memanas di Timur Tengah mendadak mengubah segalanya. Rencana ekspor perdana sebanyak 50 ton madu trigona terpaksa tertunda akibat situasi keamanan yang tidak menentu di kawasan tersebut.

Kondisi inilah yang tengah dialami para peternak madu trigona di Kabupaten Lombok Utara.

Produk meraka yang tinggal menunggu proses pengiriman, kini malah tidak bisa langsung dikirim ke Uni Emirat Arab dan Dubai.

Sahlan, peternak madu trigona asal Desa Sukadana, Kecamatan Bayan mengatakan, kabar ini menjadi pukulan berat.

Baca Juga: Butuh Rp 1,5 Miliar untuk Bebaskan Lahan Kampung Nelayan Merah Putih di Bayan Lombok Utara

Sebab, perjalanan panjang menuju pasar internasional sebenarnya sudah hampir mencapai garis akhir.

“Setelah selesai urus izin dari Indonesia dan Dubai, tinggal kirim saja. Tapi akhirnya terjadi perang, sehingga ekspor tertunda,” ujarnya.

Kesempatan menembus pasar Timur Tengah bukanlah peluang yang datang tiba-tiba.

Ceritanya bermula ketika seorang pengusaha asal Dubai berkunjung ke Lombok dan mencicipi madu trigona yang diproduksi peternak lokal. 

Ketertarikan terhadap rasa dan kualitas madu tersebut berkembang menjadi komunikasi bisnis yang serius.

Baca Juga: 3.819 ASN Lombok Utara Sudah Terima Gaji 13

Selama hampir satu tahun, berbagai persyaratan administrasi dan legalitas perdagangan antarnegara dipenuhi. 

Mulai dari perizinan ekspor hingga dokumen karantina. Semua berjalan sesuai rencana hingga kontrak kerja sama akhirnya ditandatangani. Dari sinilah optimisme muncul.

Bahkan para peternak berusaha memenuhi permintaan 50 ton madu.

Untuk memenuhi permintaan, Sahlan bersama sembilan peternak lainnya berani mengambil langkah besar dengan mengonsolidasikan produksi dari berbagai wilayah di Lombok Utara.

Potensinya memang tidak kecil. Berdasarkan pendataan yang mereka lakukan, peternak di daerah tersebut mampu menghasilkan sekitar 15 ton madu setiap tiga bulan.

Baca Juga: Pemda KLU Sebut Dua Bangunan di Sempadan Pantai Gili Air Belum Lengkapi Izin

“Di Lombok Utara saja hasilnya sekitar 15 ton per tiga bulan. Kami sepuluh orang peternak memberanikan diri mengambil kontrak hingga 50 ton,” katanya.

Kini, madu yang semula dipersiapkan untuk pasar internasional justru tertahan di gudang.

Sebagian tersimpan di tempat penampungan di Mataram, sebagian lagi masih berada di tangan para peternak.

“Kami masih menahan sekitar 2.000 botol madu siap edar di gudang, belum termasuk milik peternak lain,” ujar Sahlan.

Meski demikian, para peternak memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan. Bersama mitra dagang mereka, berbagai alternatif pasar mulai dijajaki.

Seperti dengan menjajal kawasan Asia Tenggara. Salah satunya Singapura.

Baca Juga: Pemda KLU Diminta Konsisten Jalankan Komitmen Awal dalam Penyediaan Air Bersih di Gili Meno

Menurut Sahlan, proses penjajakan pasar ke negara tersebut sudah berjalan cukup jauh. Dia mengaku sudah ada progres tembus ke Singapura.

"Kami berharap segera terealisasi sambil menunggu kondisi Timur Tengah kembali aman,” tuturnya.

Tantangan yang dihadapi peternak ternyata tidak hanya datang dari luar negeri. Di pasar domestik, mereka juga harus berhadapan dengan persaingan yang dinilai tidak sehat.

Banyak produk madu dari luar daerah yang masuk ke pasar lokal namun dipasarkan dengan identitas seolah-olah berasal dari Lombok Utara.

Kondisi itu berdampak langsung terhadap harga jual. Jika beberapa tahun lalu madu trigona kemasan 500 mililiter bisa dipasarkan dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per botol, kini harganya merosot menjadi sekitar Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu.

Editor : Kimda Farida
#pengusaha madu #madu trigona lombok utara #dampak konflik timur tengah #Madu Trigona