Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Produksi Sampah KLU Tembus 110 Ton per Hari

Habibul Adnan • Jumat, 19 Juni 2026 | 15:20 WIB
SAMPAH MENINGKAT: Komisi II DPRD Lombok Utara turun melihat kondisi TPST Gili Trawangan, beberapa waktu lalu.
SAMPAH MENINGKAT: Komisi II DPRD Lombok Utara turun melihat kondisi TPST Gili Trawangan, beberapa waktu lalu.

LombokPost – Persoalan sampah di Kabupaten Lombok Utara (KLU) kian menjadi perhatian serius.

Seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya aktivitas pariwisata, volume sampah yang dihasilkan masyarakat terus bertambah. 

Saat ini, produksi sampah di KLU diperkirakan mencapai 110 ton per hari. Sementara kapasitas pengelolaan yang tersedia baru mampu menangani sekitar 70 ton per hari.

Kondisi tersebut membuat sekitar 40 ton sampah setiap hari belum tertangani secara optimal. Hal ini juga berpotensi menambah beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KLU Husnul Ahadi menjelaskan, angka produksi sampah tersebut berdasarkan hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Penghitungan produksi sampah mengacu jumlah penduduk dan rata-rata timbulan sampah per kapita. 

Baca Juga: Pemda KLU Usulkan Rehabilitasi dan Pembangunan Sejumlah Jaringan Irigasi

Hasil kajian itu kemudian dicocokkan dengan kondisi riil di lapangan. “Dan setelah kami sandingkan dengan kondisi di lapangan, hasilnya cukup sesuai,” ujar Husnul.

Menurutnya, tingginya produksi sampah tidak terlepas dari posisi KLU sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di NTB.

Aktivitas ekonomi yang tumbuh pesat serta tingginya mobilitas wisatawan turut mendorong peningkatan volume sampah setiap hari.

Kawasan tiga gili menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar. Di Gili Trawangan, produksi sampah diperkirakan mencapai 15 hingga 20 ton per hari.

Sementara di Gili Meno sekitar 5 ton per hari, dan sampah di Gili Air di atas 6 ton per hari .

Baca Juga: Ritual Taek Lauk di Montong Gedeng, Jejak Datu yang Dijaga Warga Kayangan Lombok Utara

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA, jelas Husnul, pemerintah telah membangun jaringan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) di beberapa titik. Saat ini terdapat 20 unit TPS3R yang telah berdiri di KLU.

Namun dia mengakui, keberadaan TPS3R belum sepenuhnya optimal. Sebab, masih ada enam TPS3R tidak aktif.

“Kalau versi pemerintah pusat ada delapan yang tidak aktif karena dua lainnya dinilai belum optimal dalam beroperasi,” jelas Husnul.

Baca Juga: Pemda KLU Komitmen Perkuat Perlindungan Sosial Masyarakat

Wakil Ketua DPRD KLU Hakamah mendorong pemerintah daerah segera mengaktifkan kembali TPS3R.

Pasalnya, sejauh ini ada beberapa fasilitas TPS3R yang tidak aktif. Dia mencontohkan TPS3R Desa Sambik Elen, Kecamatan Bayan.

Menurutnya, fasilitas TPS3R dibangun menggunakan anggaran besar. Karena itu dia mendesak agar segera dimanfaatkan dan dijaga dengan baik agar tidak terbengkalai.

Sejumlah fasilitas seperti bangunan dan mesin-mesin harus tetap dijaga supaya tidak kumuh dan berkarat.

Ia juga meminta DLH melakukan evaluasi menyeluruh terhadap persoalan sampah di KLU.

Editor : Kimda Farida
#sampah meningkat #sampah Gili Lombok #Pemda Lombok Utara #sampah Lombok Utara #TPST Gili Trawangan