LombokPost - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menggelar sosialisasi perubahan iklim serta adaptasi dan pengurangan risiko bencana. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri dari berbagai unsur.
Kepala BPBD KLU M Zaldy Rahadian menjelaskan, perubahan iklim telah memicu berbagai anomali cuaca.
Di mana hal ini berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi di daerah.
Dampak perubahan iklim di Lombok Utara mulai dirasakan melalui meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, banjir, tanah longsor, hingga ancaman kekeringan.
Itu semua berpotensi mengganggu ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih.
Berdasarkan data BPBD KLU selama periode 2015-2024 tercatat sebanyak 229 kejadian bencana hidrometeorologi.
Baca Juga: FKDUSLU Gedor Kantor DPRD Lombok Utara, Tegaskan Kawal Pengadaan Motor Kadus
Rinciannya, 141 kejadian cuaca ekstrem, 37 tanah longsor, 28 banjir, sembilan kekeringan, serta beberapa kejadian kebakaran dan gelombang tinggi.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah adaptasi yang dapat dilakukan.
Mulai dari pengelolaan sampah, penghijauan, pemanfaatan pekarangan untuk ketahanan pangan, hingga pengelolaan air secara mandiri melalui panen air hujan dan pembuatan biopori.
BPBD juga mendorong penguatan kolaborasi multipihak melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Baca Juga: Pemda KLU Didesak Bebaskan Lahan Ruas Jalan Nasional
Pemerintah desa, tokoh masyarakat, akademisi, hingga generasi muda diharapkan dapat berperan aktif dalam membangun ketahanan daerah terhadap dampak perubahan iklim.
“Sinkronisasi antara inisiatif lokal dan program strategis menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan jangka panjang Lombok Utara menghadapi ancaman perubahan iklim dan bencana,” tutup Zaldy.
Editor : Prihadi ZoldicSumber : Lombok Post Online