LombokPost---Secara psikologi, perkembangan teknologi memiliki sisi positif dan negatif yang ibaratnya pisau bermata dua. Positifnya memiliki komunikasi yang efektif dan kemudahan cepat mendapat informasi. Negatifnya dengan ketergantungan teknologi digital bisa kurang bersosialisasi secara langsung. Penggunaan internet di Indonesia yang mencapai ratusan juta lebih pengguna memerlukan kehati-hatian dalam penggunaan internet.
"Ini dikarenakan, penggunaan internet tak hanya punya dampak positif, tapi juga dampak negatif yang diinisiasi oleh pihak yang tak bertanggung jawab," kata Psikolog Klinis salah satu RS di Mataram Astri Mayasari menerangkan tidak bisa dipungkiri memang perkembangan digitalisasi begitu cepat berkembang pesat. Diakui yang semua media sosial lewat internet itu lebih instan, mudah dapatkan, referensi lebih banyak. Kemudahan itu yang dirasakan dan dianggap bisa memiliki banyak referensi.
Ada beberapa survey yang mengisyaratkan masyarakat kini lebih banyak membaca semuanya di internet karena mudah mendapatkannya. Termasuk banyak referensi yang bisa diambil oleh banyak pihak dengan beragam sudut pandang.
”Karena kecepatan informasi yang membuat gen Z langsung menangkap informasi tersebut secara mentah-mentah. Akhirnya banyak portal mengatasnamakan pemberitaan yang mudah diangkat walaupun hoax karena masyarakat lebih mudah percaya dengan media sosial,” tuturnya.
Inilah alasan banyak yang kearah media sosial walaupun itu belum tentu benar tapi fiksi belaka hingga bahkan hoax. Sebab belum tentu berita yang disampaikan secara online juga benar, kembali lagi pada kemampuan literasi dan memahami masyarakat. Dimana masyarakat didorong untuk bisa membedakan mana berita hoax dan tidak.
”Ibarat sudah nyaman dengan teknologi digital, akhirnya jarang interaksi secara langsung. Dimana tatap muka jadi berkurang yang membuat sistem komunikasi seseorang bisa turun,” imbuhnya.
Cepatnya informasi ini mudah diserap, tetapi ketika terlalu banyak menyerap informasi tentu harus ada kesiapan mental. Saat mental tidak siap banyak sekali dapatkan informasi berlebihan yang akibatkan kecemasan. Bisa juga menimbulkan pemikiran yang berlebihan. Stigma digitalisasi juga memang perkembangannya terlalu cepat. Dimana ini karena teknologi yang sangat berkembang membawa dampak negative yang cukup serius juga.
”Banyak pasien yang saya temui, overthinkingnya karena informasi media sosial terkait kriminalitas dan kecelakaan yang membuat muncul rasa takut,” tuturnya. (nur)
Editor : Redaksi Lombok Post