LombokPost - Persaingan Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz dalam perebutan peringkat 1 dunia kini memasuki fase paling ketat. Hanya selisih satu pekan, duel dua bintang muda ini terus mendefinisikan ulang peta kekuatan di ATP Tour.
Kemenangan Sinner di final Monte-Carlo Masters menjadi titik terbaru dalam rivalitas luar biasa ini. Petenis Italia itu kini mengoleksi 67 pekan sebagai No. 1 dunia, unggul tipis dari Alcaraz yang mencatat 66 pekan.
Momentum Sinner juga kian menguat setelah ia menyapu tiga gelar ATP Masters 1000 beruntun, termasuk di Indian Wells Masters dan Miami Open. Rentetan ini mempertegas dominasinya sekaligus memberi tekanan besar kepada Alcaraz.
Namun rivalitas ini tak lahir dalam semalam. Awal persaingan keduanya bisa ditarik ke US Open 2022, ketika Alcaraz menyelamatkan match point sebelum menyingkirkan Sinner dalam duel epik lima set. Dari sana, Alcaraz melaju hingga juara dan menjadi No. 1 dunia termuda dalam sejarah.
Sejak saat itu, perebutan takhta dunia menjadi ajang estafet. Pada 2023, Alcaraz bahkan harus bergantian posisi puncak dengan Novak Djokovic hingga tujuh kali, sementara Sinner terus berkembang dan menunggu momentum.
Momentum itu datang pada Juni 2024 ketika Sinner menjadi No. 1 dunia. Ia kemudian bertahan selama 65 pekan, bergabung dengan elite seperti Roger Federer, Jimmy Connors, dan Lleyton Hewitt yang mampu bertahan lama di periode awal sebagai pemuncak ranking.
Meski Alcaraz sempat merebut kembali posisi tersebut usai menjuarai US Open 2025 dan mengakhiri musim sebagai No. 1 dunia, Sinner kembali membalas di 2026 dengan performa luar biasa. Ia menjadi salah satu dari sedikit pemain yang mampu mencatat ‘Sunshine Double’—menjuarai Indian Wells dan Miami dalam satu musim—sebelum menambah gelar di Monte-Carlo.
Dominasi keduanya juga terlihat dari jarak dengan pesaing lain. Alexander Zverev sebagai penantang terdekat tertinggal sangat jauh dalam perolehan poin, menegaskan bahwa persaingan No. 1 dunia kini praktis hanya milik Sinner dan Alcaraz.
Dengan usia yang masih muda—24 tahun untuk Sinner dan 22 tahun untuk Alcaraz—rivalitas ini diprediksi akan terus berlangsung panjang. Selisih tipis, konsistensi performa, serta kemampuan tampil di momen besar menjadi faktor penentu dalam perebutan takhta tenis dunia.
Editor : Rury Anjas Andita