LombokPost – Edisi ke-83 Internazionali BNL d'Italia resmi bergulir di Foro Italico. Turnamen lapangan tanah liat kategori WTA 1000 ini langsung menghadirkan persaingan sengit dengan kehadiran seluruh pemain Top 20 dunia.
Sorotan utama tertuju pada Aryna Sabalenka. Petenis nomor satu dunia itu datang dengan misi besar: merebut gelar pertamanya di Roma setelah sebelumnya hanya mampu menjadi runner-up.
Dengan tiga gelar musim ini dan rekor kemenangan impresif, Sabalenka memang difavoritkan. Namun, jalur undian yang dihadapinya jauh dari kata mulus.
Sabalenka berpotensi langsung menghadapi tantangan berat dari Barbora Krejcikova, juara Grand Slam yang mulai kembali ke performa terbaiknya.
Jika lolos, ujian berikutnya bisa datang dari Sorana Cirstea hingga Linda Noskova. Bahkan di delapan besar, ia diproyeksikan bertemu Amanda Anisimova yang punya rekor pertemuan ketat.
Anisimova sendiri harus melewati jalur sulit, berpotensi menghadapi Jelena Ostapenko, Zheng Qinwen, hingga Belinda Bencic.
Di bagian lain, Coco Gauff mencoba bangkit untuk meraih gelar pertamanya musim ini. Runner-up 2025 itu berpotensi bentrok dengan sensasi muda Mirra Andreeva di perempat final.
Nama Emma Raducanu juga menarik perhatian karena comeback setelah absen cukup lama.
Tiga kali juara Roma, Iga Swiatek, datang dengan tekanan besar setelah performa yang belum stabil sepanjang 2026.
Ia bisa menghadapi tantangan serius dari Naomi Osaka sebelum kemungkinan duel krusial melawan Jessica Pegula di perempat final.
Pegula sendiri tampil konsisten musim ini dan menjadi salah satu kandidat kuat penantang gelar.
Sementara itu, Elena Rybakina memimpin kuarter keempat dengan target mengulang sukses 2023.
Baca Juga: Laureus Awards 2026: Aryna Sabalenka Terdiam dan Merinding Raih Atlet Wanita Terbaik Dunia
Ia berpotensi menghadapi lawan tangguh seperti Maria Sakkari dan Ekaterina Alexandrova sebelum duel besar melawan Elina Svitolina di delapan besar.
Tak kalah menarik, Marta Kostyuk datang dengan rekor tak terkalahkan di lapangan tanah liat musim ini, menjadikannya ancaman serius.
Dengan kepadatan pemain elite dan potensi duel besar sejak babak awal, Roma tahun ini layak disebut sebagai “mini Grand Slam”.
Sabalenka memang memimpin, tetapi tekanan dari Swiatek, Rybakina, Gauff, hingga rising stars membuat persaingan benar-benar terbuka.
Editor : Rury Anjas Andita