Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Serunya River Tubing Lombok di Desa Sintung Pringgarata, Sensasi Tak Kalah Asik dengan Arung Jeram (1)

Redaksi Lombok Post • Sabtu, 9 September 2023 | 11:15 WIB
PACU ADRENALIN: Sejumlah wisatawan lokal dari Kota Mataram menjajal trek river tubing sepanjang 2,4 kilometer di Dusun Selakan, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Loteng, belum lama ini.
PACU ADRENALIN: Sejumlah wisatawan lokal dari Kota Mataram menjajal trek river tubing sepanjang 2,4 kilometer di Dusun Selakan, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Loteng, belum lama ini.

 

LESTARI DEWI, Lombok Tengah. 

INGIN mencari spot wisata yang memacu adrenalin di Gumi Tatas Tuhu Trasna? River Tubing Lombok jawabannya, berlokasi di Dusun Selakan, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Loteng. River tubing ini memiliki panjang track sekitar 2,5 kilometer dengan jarak tempuh 2 hingga 3 jam. 

Objek wisata river tubing merupakan sejenis wisata arum jeram namun dilakukan dengan naik ban masing-masing mengikuti aliran sungai yang lebih tenang dan rileks. Objek ini sangat pas bagi wisatawan yang ingin arum jeram namun takut dengan derasnya aliran sungai.

”Sebab itu, river tubing dinilai lebih aman, tapi sensasinya tidak kalah asyik dengan arung jeram,” kata Denny Sultan Hairy selaku pengelola wisata River Tubing Lombok pada Koran ini. 

Meski baru berjalan tiga bulan, siapa sangka river tubing digandrungi kawula muda dari pulau Lombok. Bahkan, sejumlah wisatawan dari Arab Saudi, Malaysia, Singapura pernah menjajal trek aliran sungai yang tak jauh dari kawasan Sintung Park tersebut. 

Di basecamp river tubing, Lombok Post bertemu empat orang mahasiswa dari Universitas Mataram terdiri atas tiga orang perempuan dan satu orang laki-laki. Karena penasaran, mereka ingin mencoba lintasan sungai Babakan yang viral di media sosial. 

Usai salat Zuhur, sesuai arahan pengelola wisata Bang Denny, keempat orang mahasiswa ini mulai bersiap dengan memakai perlengkapan river tubing. Ada helm, pelampung, hingga pelindung siku tangan dan kaki. Dan memastikan kaki terlindung, baik memakai sepatu atau sandal. 

Setelah perlengkapan terpasang, setiap wisatawan yang akan turun ke sungai diberikan arahan dari pengelola wisata. Mulai dari pengenalan singkat hingga perlengkapan tubing yang akan digunakan. 

Kemudian, bagaimana cara duduk di atas ban, antisipasi ketika menghadapi sejumlah spot ekstrem, cara menghindari benturan keras dengan bebatuan sungai. 

Tak kalah penting pastikan ban yang digunakan tidak dalam kondisi bocor atau kempes karena akan mempengaruhi kenyamanan saat berada di atas air.

Setelah itu pengelola pun mengeluarkan sejumlah ban berukuran cukup besar. Tak jauh dari lokasi basecamp sudah ada mobil pikap hitam yang akan mengangkut wisatawan menuju lokasi start. Ban pun dinaikkan satu per satu, disusul wisatawan. 

Lokasi start river tubing cukup jauh dari basecamp. Wisatawan pun diturunkan di tepi jalan dan kemudian berjalan turun menyusuri jalan setapak menuju sungai. Selama berwisata air, pengelola pastikan wisatawan tidak perlu khawatir. Meski baru pertama kali mencoba di setiap spot ekstrim sudah ada instruktur yang berjaga. 

Memang benar kata orang, antara teori dan praktik jauh berbeda. Saat berada di lapangan, teori yang sudah dipelajari tadi mendadak hilang. Namun Denny dan kawan-kawan tak henti-hentinya mengingatkan agar kami tidak perlu panik. 

Ban hitam seperti donat raksasa pun mulai meluncur. Nia salah satu wisatawan lokal, mengaku sempat panik karena belum dapat mengendalikan arah ban maupun badannya untuk mengikuti aliran sungai. Kakinya sempat menyentuh pinggiran batu sungai, membuat badannya berputar. ”Waduh campur aduk rasanya, senang tapi takut juga,” katanya. 

Diakui, ban miliknya sempat terbalik. Karena ada arus yang cukup deras dan bebatuan harus dilalui Nia. Namun ia tidak begitu khawatir sebab sudah ada instruktur yang berjaga di tepian sungai. ”Kami jadi tertantang, meski ini kali pertama, saya tidak kapok,” ujar mahasiswa semester genap ini. 

Sementara itu, Yayang mengaku bermain tubing memerlukan ketenangan, tidak perlu tergesa-gesa untuk sampai ke titik pemberhentian, nikmati laju ban sesuai dengan kecepatan arus sungai. ”Tegesa-gesa akan membuat keseimbangan terganggu dan bisa mengakibatkan ban terguling,” timpalnya. 

Selain itu harus memperhatikan betul-betul jalur yang dilalui. Apabila ada batu maka harus berbelok atau ketika mulai berada di tepian sungai harus segera ke tengah. ”Syukurnya ada instruktur yang mengarahkan sehingga kita tinggal memperhatikan instruksi dengan baik,” ucap wanita bercadar ini. 

Pantauan Koran ini, di tengah-tengah menikmati river tubing, sebelah kanan dan kiri meluncur air terjun yang menambah keseruan river tubing. Bukan itu saja, sepanjang sungai juga dihiasi tebing-tebing bebatuan. Termasuk tidak ada sampah yang melintas di atas sungai. 

Di lokasi river tubing ini hanya memperbolehkan wisatawan berusia 11 hingga 60 tahun saja. Dengan tarif per orang Rp 100 ribu wisatawan lokal dan Rp 200 ribu untuk wisatawan asing. Tarif ini sudah termasuk transportasi menuju basecamp, coffee break dan makanan ringan. (bersambung/r11)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Pringgarata #arung jeram #River Tubing Lombok