LombokPost – Berlibur seru di NTB tidak melulu tentang pesona eksotis pantai dan gili maupun air terjun.
Di ujung timur Pulau Sumbawa, tepatnya Kabupaten Bima, tersimpan sebuah mutiara wisata budaya yang sarat akan kearifan lokal, sejarah, dan sistem ketahanan pangan yang mengagumkan bernama Uma Lengge.
Terletak di Desa Maria, Kecamatan Wawo. Kompleks cagar budaya ini menawarkan lanskap perkampungan purba dengan deretan bangunan kerucut yang ikonis.
Baca Juga: Jiwa yang Tertukar, Ini 3 Alasan Wajib Nonton Drakor Reborn Rookie
Destinasi ini menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang merindukan petualangan wisata edukasi dan budaya yang autentik.
Dalam bahasa suku Mbojo (Bima), kata Uma berarti rumah, sedangkan Lengge memiliki arti segitiga. Dengan demikian, Uma Lengge secara harfiah bermakna rumah berbentuk segitiga.
Struktur bangunan peninggalan masa lalu yang sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam ini terbuat murni dari material alam.
Baca Juga: Alphard XE HEV Tawarkan Sensasi Berkendara Mewah yang Berkelas
Seperti kayu tangguh, bambu, serta rumbia atau ilalang sebagai penutup atap dan dindingnya.
Meskipun sekilas tampak sangat sederhana dengan ukuran tapak komoditas hanya sekitar 2x2 meter dan tinggi mencapai 5 meter, arsitektur Uma Lengge menyimpan kecerdasan teknik yang luar biasa.
Keunikan utama Uma Lengge terletak pada fleksibilitas struktur kayunya yang terbukti sangat kuat menahan guncangan gempa bumi besar.
Kemiringan atap ilalang yang curam membuat air hujan langsung meluncur ke bawah dengan cepat. Memastikan isi di dalamnya tidak pernah mengalami kebocoran.
Sistem ventilasi alami yang optimal menjaga kestabilan suhu di dalam ruangan. Efeknya, bahan pangan beras dan umbi-umbian yang disimpan tidak akan mengalami proses pembusukan dalam jangka waktu yang sangat lama.
Secara fungsional, Uma Lengge sempat digunakan sebagai tempat tinggal oleh sebagian masyarakat di masa lampau. Meski begitu, utamanya difungsikan sebagai lumbung padi keluarga.
Bangunan ini memiliki ciri khas struktur dua tingkat. Tingkat bawah berupa panggung terbuka tanpa dinding.
Baca Juga: Sedang Viral di Mataram, Barger Terjual Ratusan Pieces Setiap Hari
Bagian ini digunakan untuk tempat duduk, berkumpul, atau melepas lelah. Sedangkan tingkat atas adalah ruang sakral pelindung logistik hasil panen.
Menariknya, kepemilikan Uma Lengge tidak memandang sekat kasta atau status kebangsawanan.
Tolok ukurnya adalah meritokrasi. Siapa pun warga yang ulet, gigih, dan rajin bekerja, maka ia berhak dan pasti memiliki lumbung pangan ini.
Baca Juga: Pecah Telur! Timnas Canada Raih Poin Pertama Sejarah di Piala Dunia 2026
Ada aturan adat yang sangat kental dan ditaati secara turun-temurun terkait tata kelola lumbung ini.
Hanya kaum perempuan atau ibu-ibu yang diperkenankan menaiki tangga kayu untuk mengambil padi di dalam Uma Lengge.
Sebab mereka dinilai sebagai manajer finansial terbaik yang paling memahami volume kebutuhan riil keluarga.
Baca Juga: DPD IMM NTB Desak Pemerintah Evaluasi Kenaikan BBM
Masyarakat dilarang keras mengambil padi dari dalam lumbung melebihi batasan dua kali pengambilan dalam kurun waktu tertentu.
Aturan ketat para tetua adat ini bertujuan agar lumbung tidak pernah kosong total. Petani juga diwajibkan menyisihkan setidaknya 60 persen hasil panen untuk mengantisipasi krisis pangan saat musim kemarau panjang.
Eksistensi Uma Lengge di era modern ini tidak sekadar menjadi monumen mati. Situs ini telah resmi ditetapkan ke dalam daftar cagar budaya Kabupaten Bima.
Itu sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi besar Suku Mbojo dalam khasanah budaya nasional.
Baca Juga: Pentas Seni SDN 44 Ampenan Meriah, Ratusan Siswa Tampilkan Kreativitas Terbaik
Jika beruntung datang pada saat musim panen, wisatawan dapat menyaksikan secara langsung Ritual Ampa Fare.
Sebuah upacara adat sakral sebagai bentuk rasa syukur kolektif atas berkah panen yang melimpah.
Dalam prosesinya, seluruh warga desa berpakaian adat bergotong royong menjunjung dan menaikkan ikatan padi hasil panen raya ke dalam langit-langit Uma Lengge.
Baca Juga: Pimpin ARSADA NTB, dr. Suriyadi Perkuat Kolaborasi Rumah Sakit Daerah
Untuk mengunjungi situs cagar budaya eksotis ini, akses transportasi darat sudah tergolong sangat memadai.
Dari Pusat Kota Bima di Kecamatan Mpunda, jaraknya berkisar 24,6 kilometer melintasi jalur utama Jl. Lintas Bima-Sape. Estimasi waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor sekitar 45 hingga 60 menit.
Dari Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, jaraknya 40 kilometer dengan waktu tempuh perjalanan darat kurang lebih 1 jam saja. Sedangkan Dari Kota Mataram, jaraknya berkisar 465 kilometer.
Baca Juga: ITDC Dorong UMKM Lokal Masuk Ekosistem Mandalika
Rute ini memerlukan perjalanan darat menyusuri Pulau Sumbawa serta penyeberangan kapal feri menuju Pelabuhan Poto Tano. Estimasi total waktu tempuh sekitar 11 hingga 12 jam.
Pemkab Bima bersama Pokdarwis setempat juga telah melengkapi area cagar budaya Uma Lengge dengan sederet fasilitas publik.
Di antaranya, lahan parkir kendaraan yang lapang, toilet umum yang bersih, musala, dan tempat makan atau food court.
Terdapat kedai kopi modern serta spot-spot instagenic untuk area swafoto, kios suvenir hingga Jasa persewaan pakaian adat khas Bima atau Rimpu.
Baca Juga: Soal Batasan Masa Jabatan Ketua Umum Parpol: PKS Setuju, PDIP Sebut Tergantung AD/ART Partai
Editor : Akbar Sirinawa