Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puasa dan Pendidikan Keluarga, Ramadan adalah Bulan Ibadah yang Berdampak Luas

L
Penulis: Lombok Post Online❯

Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)


Advertisement

LombokPost - “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroni)

Pembaca yang berbahagia. Alhamdulillah kita memasuki sepuluh hari kedua dalam puasa Ramadan kita. Kali ini, izinkan Insight Ramadan untuk membahas puasa dan pendidikan keluarga.

Kenapa demikian? Karena, Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 116 dan Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975  menyebutkan setidaknya terdapat 13 faktor penyebab perceraian antara lain kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), mabuk, zina, madat, judi, meninggalkan salah satu pihak, poligami, dihukum penjara, cacat badan, perselisihan, dan pertengkaran terus menerus, kawin paksa, murtad, dan masalah perekonomian.

Advertisement

Sementara tujuan berpuasa adalah bukan sekadar menahan lapar dan minum, tapi puasa dalam rangka melakukan penahanan diri dari segala hal yang dapat merusak rumah tangga. Ketidakmampuan menahan diri inilah sehingga kehancuran rumah tangga terjadi.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Ramadan adalah bulan ibadah yang memiliki dampak luas, bukan hanya pada individu, tetapi juga pada kehidupan keluarga. Puasa menjadi sarana pendidikan yang efektif dalam keluarga, karena ia mengajarkan nilai-nilai keimanan, akhlak, dan kebersamaan secara nyata.

Dalam suasana Ramadan, keluarga sejatinya berubah menjadi madrasah pertama yang menanamkan nilai-nilai Islam melalui keteladanan dan pembiasaan. Puasa mengajarkan pendidikan keteladanan. Anak-anak belajar makna puasa bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Advertisement

Ketika orang tua berpuasa dengan sabar, menjaga lisan, disiplin shalat, dan gemar bersedekah, nilai-nilai itu terekam kuat dalam ingatan anak. Keteladanan inilah metode pendidikan paling efektif dalam keluarga.

Selain itu, puasa melatih disiplin dan tanggung jawab dalam keluarga. Jadwal sahur, waktu berbuka, dan salat berjamaah membentuk rutinitas yang teratur.

Anak-anak dilatih bangun lebih awal, menahan diri sesuai kemampuan, serta memahami batasan halal dan haram. Proses ini menanamkan kesadaran bahwa ibadah membutuhkan komitmen dan kedisiplinan.

Pembaca yang budiman. Puasa juga memperkuat komunikasi dan kebersamaan keluarga. Momen sahur dan berbuka menjadi ruang berkumpul yang bernilai edukatif.

Pada momentum ini, orang tua dapat menyisipkan nasihat, cerita teladan, atau diskusi ringan tentang makna puasa dan ajaran Islam. Kebersamaan semacam ini membangun ikatan emosional yang sehat antara anggota keluarga.

Dalam pendidikan akhlak, puasa mengajarkan kesabaran dan empati. Anak-anak belajar memahami rasa lapar, menghormati orang yang berpuasa, dan bersikap santun dalam berinteraksi.

Orang tua pun dilatih untuk lebih sabar dalam mendidik, mengarahkan dengan lembut, dan menahan emosi. Ramadan menjadi momentum memperbaiki pola asuh dengan pendekatan yang lebih penuh kasih sayang.

Puasa juga membuka ruang pendidikan sosial dalam keluarga. Melalui sedekah, berbagi makanan berbuka, dan membantu sesama, anak-anak diperkenalkan pada nilai kepedulian dan solidaritas.

Mereka belajar bahwa ibadah tidak hanya bersifat personal, tetapi juga berdampak sosial. Pendidikan semacam ini membentuk karakter anak yang peduli dan berkeadaban.

Namun, pendidikan keluarga melalui puasa tidak boleh berhenti di bulan Ramadan. Nilai-nilai yang ditanamkan selama sebulan penuh perlu dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kebiasaan salat berjamaah, membaca Alquran, dan berbagi kebaikan tetap dijaga setelah Ramadan, maka puasa telah berhasil menjalankan fungsi pendidikannya. Untuk itu, kita berharap puasa menjadikan keluarga sebagai pusat pembinaan iman dan akhlak.

Ramadan menghadirkan kesempatan emas bagi orang tua untuk memperkuat perannya sebagai pendidik utama. Semoga puasa Ramadan benar-benar menjadi sarana pendidikan keluarga yang melahirkan generasi beriman, berakhlak mulia, dan berkepribadian kuat. Wallohu’lam bisshawab. 

Advertisement
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Suara Adzan dari Ponsel Penumpang Picu Pendaratan Darurat Pesawat di AS, Ini Kronologinya

Suara Adzan dari Ponsel Penumpang Picu Pendaratan Darurat Pesawat di AS, Ini Kronologinya

Pesawat Southwest Airlines mendarat darurat setelah suara adzan dari ponsel penumpang memicu kesalahpahaman. FBI memastikan tak ada ancaman

Gerhana Bulan Sebagian di 28 Agustus 2026 Tak Bisa Disaksikan dari Indonesia

Gerhana Bulan Sebagian di 28 Agustus 2026 Tak Bisa Disaksikan dari Indonesia

Gerhana Bulan Sebagian 28 Agustus 2026 berlangsung 5 jam 38 menit, namun tidak dapat diamati langsung dari Indonesia.

Menyambut 1 Muharram 1448 H, Pergantian Tahun Hijriah Bukan Sekadar Pergantian Angka

Menyambut 1 Muharram 1448 H, Pergantian Tahun Hijriah Bukan Sekadar Pergantian Angka

Pergantian tahun hijriah bukan sekadar pergantian angka, tetapi momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri), perbaiki amal ibadah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer