LombokPost - “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi)
Alhamdulillah binikmatihi tatimmussholihat.
Pembaca Yang berbahagia. Ramadan adalah bulan doa dan harapan. Di dalamnya, Allah SWT membuka pintu langit selebar-lebarnya bagi hamba-hamba-Nya yang bermunajat dengan tulus.
Salah satu keistimewaan besar bulan suci ini adalah doa orang yang berpuasa, yang dijanjikan tidak akan tertolak. Keistimewaan ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ibadah menahan diri, tetapi juga sarana mendekatkan harapan manusia kepada rahmat Allah SWT.
Ibadah Puasa menempatkan seorang hamba dalam kondisi ketergantungan total kepada Allah SWT. Saat menahan lapar dan dahaga, manusia menyadari kelemahan dirinya dan kebutuhan mutlak akan pertolongan-Nya.
Dari kesadaran inilah doa menjadi lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih ikhlas. Doa orang berpuasa lahir dari hati yang tunduk, bukan dari lisan yang sekadar mengucap.
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa ada tiga doa yang tidak tertolak, salah satunya adalah doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka. Waktu-waktu puasa, terutama menjelang berbuka, adalah saat yang sangat mulia untuk memanjatkan doa.
Pada saat itu, kesabaran telah ditempa sepanjang hari, dan harapan tertuju sepenuhnya kepada Allah SWT. Inilah momen ketika langit seakan dekat dengan bumi.
Pembaca yang budiman. Doa dalam Ramadan bukan hanya tentang permintaan duniawi, tetapi juga tentang harapan spiritual. Memohon ampunan, memohon hati yang bersih, iman yang kuat, keluarga yang sakinah, serta masyarakat yang adil dan berkeadaban.
Ramadan mengajarkan bahwa doa terbaik adalah doa yang menyeluruh, mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Namun, doa yang mustajab tidak terlepas dari usaha dan keistiqamahan.
Puasa mengajarkan keselarasan antara doa dan amal. Lisan memohon kebaikan, sementara perbuatan berjalan di atas jalan ketaatan. Doa yang disertai ikhtiar dan kesungguhan akan lebih dekat pada pengabulan, karena mencerminkan keseriusan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Bulan Ramadan juga mengajarkan sikap optimis dan penuh harap. Dalam doa, seorang mukmin diajarkan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Sekalipun doa belum terjawab sesuai keinginan, seorang yang berpuasa yakin bahwa Allah Swt Maha Mengetahui apa yang terbaik. Bisa jadi doa dikabulkan dengan cara lain, ditunda waktunya, atau diganti dengan kebaikan yang lebih besar.
Pada akhirnya, doa orang berpuasa adalah cermin hubungan yang intim antara hamba dan Tuhannya. Ia bukan sekadar permohonan, tetapi juga pengakuan, penghambaan, dan penyerahan diri.
Ramadan menjadikan doa lebih hidup, lebih dalam, dan lebih bermakna. Semoga Ramadan ini menjadikan doa-doa kita dipenuhi keikhlasan, harapan kita diliputi keyakinan, dan hidup kita diarahkan pada kebaikan yang diridhai Allah SWT. Wallohu’lam bisshawab. (*/r3)
Editor : Kimda Farida