Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Idulfitri: Kembali kepada Fitrah, Idulfitri Juga Mengajarkan Kesetaraan dan Kepedulian

Lombok Post Online • Selasa, 17 Maret 2026 | 13:10 WIB

Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)

LombokPost - “Rasulullah SAW biasa berangkat Salat Id pada hari Idulfitri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari salat Id baru beliau menyantap hasil kurbannya.” (HR. Ahmad)

Pembaca Insight Ramadan yang berbahagia. Idulfitri hadir sebagai puncak dari perjalanan spiritual Ramadan. Setelah sebulan penuh menahan diri, melatih kesabaran, dan membersihkan jiwa melalui puasa, Idulfitri menjadi momentum kemenangan bagi orang-orang yang beriman.

Namun, makna Idulfitri jauh melampaui perayaan dan tradisi. “Rasulullah SAW biasa berangkat Salat Id pada hari Idulfitri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu.

Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil kurbannya.” (HR. Ahmad)

Ia adalah ajakan suci untuk kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian jiwa dan nilai-nilai kemanusiaan yang lurus. Secara makna, fitrah adalah keadaan asli manusia yang bersih, jujur, dan cenderung kepada kebaikan.

Ramadan berfungsi sebagai proses penyucian yang membersihkan hati dari noda dosa, kesombongan, dan hawa nafsu. Idulfitri menandai selesainya proses itu, sekaligus menjadi titik awal untuk menjaga kesucian yang telah diraih selama Ramadan.

Tradisi saling memaafkan pada Idulfitri merupakan cerminan nyata dari makna kembali kepada fitrah.

Dengan meminta dan memberi maaf, manusia melepaskan beban dendam dan luka batin yang mengotori hati. Hati yang lapang dan hubungan yang kembali harmonis adalah tanda bahwa nilai-nilai Ramadan telah berbuah dalam kehidupan sosial.

Idul fitri juga mengajarkan kesetaraan dan kepedulian. Kewajiban zakat fitrah sebelum Salat Id menjadi simbol bahwa kebahagiaan tidak boleh dinikmati sendiri.

Setiap muslim bertanggung jawab memastikan bahwa sesamanya dapat merasakan kegembiraan Idulfitri. Inilah wujud nyata dari fitrah kemanusiaan yang menjunjung tinggi keadilan dan empati.

Namun, kembali kepada fitrah tidak berhenti pada satu hari perayaan. Tantangan terbesar adalah menjaga kesucian itu dalam kehidupan setelah Ramadan.

Baca Juga: Data BMKG 19 Maret 2026: Ketinggian di Bawah 3 Derajat, Akankah Idulfitri 1447 H Berpotensi Beda Hari?

Kejujuran, kesabaran, kepedulian, dan kedisiplinan yang dilatih selama Ramadan harus tetap hidup dalam keseharian. Jika nilai-nilai tersebut pudar, maka makna Idulfitri menjadi sekadar seremonial.

Idulfitri mengingatkan bahwa kesalehan sejati tercermin dalam akhlak dan perilaku. Hati yang bersih akan melahirkan sikap yang lembut, adil, dan penuh kasih sayang.

Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya,menjadi hamba Allah yang taat dan manusia yang membawa kebaikan bagi sesama.

Idulfitri adalah momentum untuk memulai lembaran baru dengan jiwa yang lebih jernih.

Semoga Idulfitri benar-benar mengantarkan kita kembali kepada fitrah, menguatkan iman, dan meneguhkan komitmen untuk terus berjalan di jalan kebaikan. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Wallohu’alam bisshawab. (*)

Editor : Kimda Farida
#idulfitri #ramadan #perayaan #tradisi #zakat fitrah