Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Advertisement
LombokPost - Di Lebanon selatan, perang tidak hanya merenggut nyawa—tetapi juga merampas cara terakhir manusia mengucapkan selamat tinggal.
Advertisement
Di kota Tyre, tradisi pemakaman yang biasanya penuh penghormatan kini berubah menjadi prosedur darurat. Jenazah tidak lagi diarak melewati kampung halaman, tidak lagi disemayamkan dengan tenang di tanah leluhur.
Sebaliknya, mereka dikuburkan sementara—sering kali dalam parit-parit panjang tanpa nama.
Advertisement
“Keluarga dipaksa menguburkan orang yang mereka cintai dua kali,” kata Rabih Koubaissi, yang tetap tinggal di Tyre untuk mengurus pemakaman di tengah serangan.
Ia menggambarkan kondisi yang jauh dari layak.
Advertisement
Lombok PostIkuti
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement





