Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Iran Desak IAEA Jaga Netralitas Profesi dan Hindari Agenda Politik

R
Ilustrasi ledakan nuklir mengancurkan sebuah kota
Ilustrasi ledakan nuklir mengancurkan sebuah kota

Advertisement

LombokPost — Pemerintah Iran meminta Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk tetap berpegang teguh pada mandat teknisnya dan menjauhkan diri dari pendekatan bermuatan politis. Teheran memperingatkan bahwa kompromi terhadap netralitas dapat mengikis kredibilitas serta efektivitas lembaga pengawas nuklir dunia tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menekankan pentingnya imparsialitas profesional dalam menjalankan tugas verifikasi internasional. Hal ini disampaikan menyusul pernyataan terbaru dari pimpinan IAEA terkait situasi geopolitik di kawasan Asia Barat.

Melalui pernyataan resmi di akun media sosial X pada Minggu (10/5/2026), Baghaei menegaskan bahwa fungsi utama IAEA adalah melakukan verifikasi teknis, bukan memberikan pernyataan yang bersifat politis terkait kebijakan pertahanan atau kedaulatan wilayah sebuah negara.

Advertisement

“Mandat IAEA adalah verifikasi, bukan pesan politik tentang Selat Hormuz, rudal Iran, atau bagaimana Teheran harus bertindak,” tegas Baghaei.

Ia menambahkan bahwa jika lembaga internasional mulai memberikan sinyal politik demi ambisi tertentu, hal itu akan berdampak buruk pada kepercayaan global. “Ketika imparsialitas profesional dikompromikan untuk sinyal politik atau ambisi pribadi, lembaga-lembaga akan mengikis kredibilitas mereka — dan, seiring waktu, efektivitas mereka juga,” tulisnya.

Advertisement

Pernyataan Baghaei ini muncul setelah Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyebut krisis di Asia Barat saat ini sebagai situasi yang "berbahaya" dan melampaui dampak guncangan minyak pada era 1970-an. Grossi menyarankan agar pembukaan kembali Selat Hormuz dilakukan sebagai solusi ideal untuk meredakan tekanan energi global, terutama di tengah krisis bahan bakar yang melanda Asia.

Sebagaimana diketahui, Iran menutup akses Selat Hormuz bagi negara-negara yang terlibat konflik dengannya pasca-eskalasi yang dimulai pada 28 Februari lalu. Teheran juga memperketat kontrol di jalur vital tersebut setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Iran, sebuah langkah yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata hasil mediasi Pakistan pada 8 April.

Kondisi Sektor Energi

Meskipun berada di bawah tekanan blokade dan pengawasan ketat, aktivitas pengiriman komoditas minyak mentah dari Iran dilaporkan masih terus berlangsung. Iran tetap bersikukuh bahwa tindakan pengamanan di Selat Hormuz merupakan respons atas pelanggaran ketentuan gencatan senjata oleh pihak Washington.

Teheran berharap IAEA dapat kembali fokus pada tugas pokoknya dan tidak ikut campur dalam dinamika konflik regional yang berada di luar ranah pengawasan nuklir.

Advertisement
Editor : Redaksi Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menakar Ambisi PLTN di Batam, Kedaulatan Energi di Depan Hidung Singapura

Menakar Ambisi PLTN di Batam, Kedaulatan Energi di Depan Hidung Singapura

Rencana Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) d

Pemerintah Kaji Pembangunan PLTN di Batam untuk Perkuat Ketahanan Energi

Pemerintah Kaji Pembangunan PLTN di Batam untuk Perkuat Ketahanan Energi

Pemerintah mulai membidik Batam, Kepulauan Riau, sebagai salah satu lokasi potensial pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). R

Trump Marahi Netanyahu di Gedung Putih

Trump Marahi Netanyahu di Gedung Putih

Donald Trump menegaskan kepada Netanyahu bahwa dirinya tidak memerlukan penjelasan terkait dugaan aktivitas nuklir Iran.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer