Para ahli militer dan energi menilai, jika Iran tutup Selat Hormuz, dunia akan menanggung akibatnya.
Jalur sempit di antara Teluk Persia dan Laut Oman ini adalah penghubung utama ekspor minyak dunia.
Lebih dari 80 persen pasokan minyak dari wilayah Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan UEA, melewati jalur ini setiap hari.
“Jika AS menyerang, maka Selat Hormuz hampir pasti ditutup. Ini akan menjadi bencana ekonomi global,” ujar salah satu analis seperti dikutip Press TV, kemarin (19/6).
Iran tutup Selat Hormuz bukan sekadar ancaman kosong. Presiden AS Donald Trump yang dikabarkan mendapat tekanan dari lobi pro-Israel, memberi sinyal akan terlibat langsung dalam perang Israel–Iran. Namun, para ahli menilai langkah itu akan sangat merugikan AS sendiri.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah memperingatkan bahwa setiap bentuk agresi dari Amerika akan dibalas dengan keras.
“Iran tidak pernah tunduk pada ancaman. Serangan militer akan membawa konsekuensi yang tak bisa dibalik,” tegasnya.
Baca Juga: Pesawat Kiamat Muncul di Washington! E-4B Nightwatch Kawal Trump Hadapi Ancaman Nuklir Iran
Jika konflik ini pecah dan Selat Hormuz ditutup, harga minyak dunia bisa melonjak hingga 80 persen hanya dalam waktu sepekan. Negara-negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris, akan menghadapi krisis energi yang lebih parah dari sebelumnya. Banyak industri besar akan terpaksa tutup.
Penutupan ini akan membuat ekspor gas alam cair (LPG) dari Qatar akan terhenti. Ekonomi negara-negara Teluk akan terpukul. Krisis energi akan menjalar cepat ke Eropa dan Amerika.
Iran tutup Selat Hormuz, berarti juga mengancam rantai pasok energi AS. Harga bensin akan meroket. Jutaan pekerja di sektor industri bisa kehilangan pekerjaan, karena biaya operasional melonjak tajam.
Baca Juga: Kim Jong Un Ngamuk! Korea Utara Ancam Serang Israel, Siap Bantu Iran Hadapi AS
Evakuasi WNI Jalur Darat
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyiapkan langkah evakuasi WNI di Iran dan Israel. Karena jalur udara tidak memungkinkan, pemerintah merancang skenario evakuasi lewat jalur darat.
“Pesawat tidak bisa masuk, jadi evakuasi hanya bisa lewat darat,” ujar Menlu Sugiono saat mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Rusia, kemarin (19/6).
Kemenlu dan KBRI Teheran serta KBRI Amman kini tengah mendata WNI yang akan dievakuasi. Saat ini, tercatat ada 386 WNI di Iran, mayoritas pelajar di Kota Qom. Sementara di Israel, terdapat 194 WNI, sebagian besar peserta magang di sektor pertanian.
Sebanyak 11 WNI di Israel telah mengajukan permohonan evakuasi. Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha, menyebut data terus bergerak dan akan diperbarui hari ini.
Editor : Redaksi Lombok Post