Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

China Bereaksi Keras soal Maduro: Wang Yi Tegaskan Tak Ada Negara Berhak Jadi “Hakim Dunia”

Marthadi • Senin, 5 Januari 2026 | 10:28 WIB

Menteri Luar Negeri China Wang Yi. (Foto: REUTERS/Maxim Shemetov)
Menteri Luar Negeri China Wang Yi. (Foto: REUTERS/Maxim Shemetov)
LombokPost - China akhirnya bersuara. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat memicu respons keras Beijing yang menolak dominasi satu negara atas dunia.

Pemerintah China menegaskan penolakannya terhadap tindakan negara mana pun yang bertindak sebagai “hakim dunia” menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar di Beijing, Minggu. Wang merujuk pada “perkembangan mendadak di Venezuela” tanpa menyebut Amerika Serikat secara langsung.

“Kami tidak pernah percaya ada negara yang bisa bertindak sebagai polisi dunia, dan kami juga tidak menerima klaim siapa pun sebagai hakim dunia,” ujar Wang. Ia menegaskan bahwa kedaulatan dan keamanan seluruh negara harus dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum internasional.

Pernyataan tersebut menjadi komentar resmi pertama Beijing sejak beredarnya gambar Maduro—dalam kondisi mata tertutup dan tangan diborgol—yang mengejutkan publik Venezuela. Maduro kini ditahan di pusat penahanan New York dan dijadwalkan menghadiri sidang pengadilan pada Senin atas tuduhan terkait narkotika.

China sendiri tengah berupaya memperkuat perannya sebagai kekuatan diplomatik global. Ambisi itu terlihat jelas pada 2023 ketika Beijing berhasil memediasi rekonsiliasi mengejutkan antara Arab Saudi dan Iran. Para analis menilai keberhasilan China menghadapi Amerika Serikat dalam negosiasi perdagangan turut meningkatkan kepercayaan diri Beijing di panggung internasional.

Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington akan mengawasi pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu menjadi ujian serius bagi kemitraan strategis komprehensif “segala cuaca” antara China dan Venezuela. Kemitraan itu diteken pada 2023, bertepatan dengan hampir 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

“Itu pukulan besar bagi China. Kami ingin tampil sebagai mitra yang dapat diandalkan bagi Venezuela,” ujar seorang pejabat pemerintah China yang mengetahui pertemuan antara Maduro dan utusan khusus China untuk Amerika Latin dan Karibia, Qiu Xiaoqi, beberapa jam sebelum penangkapan terjadi.

Pejabat tersebut juga menyebutkan, putra Maduro pernah menempuh pendidikan di Universitas Peking sejak 2016 dan mengunjungi kampus tersebut pada 2024. Namun, belum ada kepastian apakah ia akan kembali ke China di tengah dinamika politik terkini.

Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China selama ini menjadi penopang penting bagi Venezuela sejak Amerika Serikat dan sekutunya memperketat sanksi pada 2017. Pada 2024, China tercatat membeli barang dari Venezuela senilai sekitar 1,6 miliar dolar AS.

Hampir setengah dari nilai tersebut berasal dari pembelian minyak mentah. Selain itu, perusahaan minyak milik negara China telah menanamkan investasi sekitar 4,6 miliar dolar AS di Venezuela hingga 2018, menurut data lembaga pemikir American Enterprise Institute.

Pernyataan keras Wang Yi menegaskan posisi Beijing yang semakin vokal menentang dominasi Amerika Serikat—sekaligus membuka babak baru ketegangan geopolitik terkait masa depan Venezuela.

Editor : Marthadi
#geopolitik global #Wang Yi Reuters #krisis venezuela #Maduro ditangkap #China Amerika Serikat