Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Israel Diklaim Siapkan Operasi Militer Baru, Jika Fase Kedua Perdamaian Gaza Tak Kunjung Dimulai

Lombok Post Online • Senin, 5 Januari 2026 | 11:10 WIB

 

STUDI JALAN TERUS: Seorang mahasiswa Palestina dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar mencium tangan ibunya dalam wisuda di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza, akhir pekan lalu.
STUDI JALAN TERUS: Seorang mahasiswa Palestina dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar mencium tangan ibunya dalam wisuda di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza, akhir pekan lalu.
 

LombokPost - Israel diklaim mempersiapkan sejumlah skenario alternatif jika fase kedua perdamaian di Gaza tak kunjung dimulai.

Salah satunya adalah menyiapkan operasi militer baru karena pelucutan senjata Hamas tidak segera terealisasi.

Hal itu mengacu pada kebocoran informasi dalam pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu.

Mengutip surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, skenario lain yang dipersiapkan Israel adalah pembekuan rekonstruksi di seluruh wilayah kantong tersebut dan pembatasan pembangunan kembali di daerah-daerah yang berada di bawah kendali Israel.

Trump dan Netanyahu kabarnya sepakat bahwa fase kedua perdamaian Gaza rencananya dimulai pada 15 Januari nanti.

”Kami akan membongkar infrastruktur Hamas jika pasukan internasional gagal menjalankan misinya,” kata Netanyahu.

Bergantung Tercapainya Kepentingan

Mokhtar Ghobashy, sekjen Pusat Studi Strategis Al-Farabi di Mesir, menyatakan bahwa fase kedua perjanjian Gaza sangat kompleks.

Israel tidak ingin memasukinya kecuali dengan syarat yang sesuai dengan kepentingannya.

”Ada jalan yang disepakati yang memungkinkan peluncuran fase kedua perdamaian di Gaza, tetapi dengan kecepatan yang lambat. Semua bergantung pada kepentingan yang dicapai oleh kedua belah pihak (Israel dan AS) dan bukan hanya Palestina,” katanya.

Barakat Al-Farra, mantan duta besar Palestina untuk Mesir, menambahkan bahwa kebocoran informasi muncul berulang kali dari pihak Israel.

Artinya, andai fase kedua perjanjian bisa dimulai, implementasinya akan tertunda karena hambatan dari Israel.

Seruan Bantuan Kemanusiaan

Di tengah kebocoran informasi dari Israel, delapan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, dan Qatar mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan implementasi perjanjian fase pertama.

Yakni, masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza secara segera, penuh, dan tanpa hambatan melalui PBB dan badan-badannya. Juga rehabilitasi infrastruktur dan rumah sakit hingga pembukaan penyeberangan Rafah di kedua arah. (wan/dns/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#operasi #internasional #gaza #militer #Israeal