LombokPost - Ramadan biasanya disambut dengan semarak. Termasuk juga yang dilakukan oleh warga Palestina di Gaza. Mereka memanfaatkan barang yang ada untuk membuat dekorasi. Menghidupkan kota yang tinggal puing menjadi indah.
Ini adalah Ramadan pertama bagi warga Gaza pascagencatan senjata. Harga bahan makanan belum juga turun. Bahkan serangan juga masih dilancarkan Israel ke tengah warga yang tengah menyongsong Ramadan
Puing-puing bangunan masih memenuhi kota. Namun bendera, lampion, atau hiasan lain menggantung di jalanan. Dlansir dari Al Jazeera, salah satu pengungsi Mohannad Al Najjar menunjukan bagaimana membuat lampion dari kaleng soda. “Kaleng yang di tempat sampah ini dibuat untuk membuat anak-anak gembira,” katanya.
Harga Bahan Pokok Mahal
Warga lainnya tengah berjuang untuk membuat perut mereka kenyang. Salah satunya diucapkan Omar Abed. Dia mengeluh harga bahan pokok mahal. Untuk itu, membeli dekorasi ramadan bukan pilihan pertama. Dia bahkan menyebut 50 persen warga Palestina tidak bisa membeli dekorasi itu.
Tenda-tenda tempat mereka berlindung karena bangunan hancur, dipercantik. Mereka menggunakan bahan yang ada di sekitarnya untuk mendekorasi lingkungan tempat tinggal. Media YeniSafak mengungkapkan bahwa ribuan warga Gaza harus bertahan hidup di tenda selama musim dingin di Bulan Ramadan. Mereka terbatas untuk mendapatkan akses makanan, air bersih, dan perawatan medis.
Makanan Khas di Pasar
Anadolu Agency menyebutkan bahwa semarak ramadan di Gaza sudah terasa beberapa hari sebelum puasa pertama.
Aroma makanan khas Ramadan mulai tercium di pasar-pasar. Salah satunya di Pasar Garasi Rafah di Khan Younis. Pasar ini sebelum perang melanda menjadi salah satu yang ramai menjelang Ramadan. Kini, beberapa orang yang memiliki toko berusaha menghidupkan kembali pasar ini.
Salim Al Bayouk adalah salah satu pedangan di Pasar Garasi Rafah. Dia sudah lebih 20 tahun menjual Qatayef dan medapat julukan Raja Qatayef. Qatayef merupakan makanan penutup untuk santapan setelah berbuka. Untuk membuat dagangannya, dia biasanya menggunakan gas. Sayang pasokan langkah. “Saya terpaksa bergantung pada kayu bakar,” ucapnya.
Langgar Gencatan Senjata
Gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober tahun lalu. Namun, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan masih ada warganya yang meninggal karena serangan Israel. Total ada 600 warga Palestina yang meninggal sejak gencatan senjata.
Yang terbaru, serangan Israel pada Minggu (15/2) menewasjan sembilan warga Palestina. Al-Jazeera melaporkan, serangan pertama terjadi di Jabalia di bagian utara Jalur Gaza.
Pasukan Israel menargetkan tenda tempat pengungsi Palestina berlindung. Serangan udara lain juga terjadi di Khan Younis, menewaskan lima orang.
Warga Palestina yang tewas sedang menjalani kehidupan normal ketika Israel menyerang mereka. Israel mengklaim ada lima pejuang Hamas di antara korban tewas. Total ada lebih dari 1.600 pelanggaran telah terjadi selama masa gencatan senjata yang dimulai sejak Oktober 2025. (lyn/gas/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post