LombokPost - Jagat raya kembali diguncang ketegangan hebat. Hubungan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) benar-benar berada di titik nadir.
Sebuah kapal perang kebanggaan Iran, IRIS Dena, dilaporkan karam di dasar Samudera Hindia, dekat perairan selatan Sri Lanka, setelah dihantam torpedo yang diduga kuat diluncurkan dari kapal selam siluman milik militer Paman Sam.
Insiden berdarah di tengah laut ini tak hanya menewaskan puluhan pelaut, tapi juga menyulut api kemarahan besar dari Teheran yang berpotensi menyeret Israel ke dalam pusaran konflik regional yang lebih luas.
"Kekejaman di Laut Lepas"
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung bereaksi keras. Dengan nada geram, ia menyebut aksi militer AS ini sebagai tindakan brutal dan pengecut.
"Amerika Serikat telah melakukan kekejaman di laut, sekitar 2.000 mil dari pantai kami," kecam Araghchi.
Padahal, menurutnya, fregat IRIS Dena saat itu tengah menjadi 'tamu' Angkatan Laut India usai latihan gabungan di Teluk Benggala.
Kapal yang mengangkut 130 pelaut itu diserang tiba-tiba saat melintas di perairan internasional.
"Catat kata-kata saya: Amerika Serikat akan sangat menyesali preseden yang telah mereka buat!" tegasnya memberikan peringatan keras kepada Washington.
80 Nyawa Melayang
Data sementara dari pejabat Sri Lanka menyebutkan pemandangan mengerikan terjadi di lokasi kejadian.
Sedikitnya lebih dari 80 pelaut Iran dinyatakan tewas, sementara 30 lainnya luka-luka dan sisanya masih hilang di tengah luasnya samudera.
Menteri Kesehatan Sri Lanka, Nalinda Jayatissa, mengonfirmasi bahwa operasi pencarian terus dilakukan.
"Kami melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan kawasan," ungkapnya dalam sidang parlemen.
Pentagon Bangga: Operasi 'Kematian Sunyi'
Di sisi lain, Washington justru memuji kesuksesan serangan tersebut. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, tanpa ragu menyebut operasi ini sebagai demonstrasi kekuatan global Amerika.
"Sebuah kapal perang Iran yang mengira aman, justru tenggelam oleh torpedo. Itulah Kematian yang Sunyi," ujar Hegseth bangga. Ini merupakan kali pertama torpedo AS menenggelamkan kapal lawan sejak era Perang Dunia II.
Ekonomi Dunia Terguncang
Dampak serangan ini langsung merembet ke jalur urat nadi ekonomi dunia. Pasukan IRGC Iran dilaporkan mulai membalas dengan menyerang kapal tanker milik Amerika di Teluk Persia. Teheran mengancam akan menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal AS, Israel, dan Eropa.
Akibatnya, harga minyak dan gas dunia langsung melonjak tajam. Biaya pengiriman meningkat dan perusahaan asuransi mulai angkat tangan terhadap risiko perang. Dunia kini menahan napas, menunggu apakah krisis ini akan meledak menjadi Perang Dunia III atau ada jalan tengah untuk meredam bara yang kian membara.
Editor : Kimda Farida