Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Iran Akan Ciptakan “Neraka Bersejarah”: Wilayah Geografis Untungkan Iran

Lombok Post Online • Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:10 WIB

BERJAGA: Pasukan keamanan Israel mengepung sebuah tempat setelah serangan proyektil di selatan Tel Aviv pada Kamis (26/3). Konflik di Timur Tengah dipicu oleh serangan gabungan ASIsrael terhadap Iran.
BERJAGA: Pasukan keamanan Israel mengepung sebuah tempat setelah serangan proyektil di selatan Tel Aviv pada Kamis (26/3). Konflik di Timur Tengah dipicu oleh serangan gabungan ASIsrael terhadap Iran.

LombokPost - Teheran menyiapkan sekitar 1 juta tentara menghadapi kemungkinan serangan darat Amerika Serikat-Israel.

Kekuatan terbesar mereka adalah benteng alami gunung, lembah, dan dataran tinggi yang, menurut seorang mantan staf ahli NATO, membuat pendaratan pasukan mustahil dilakukan.

SERANGAN darat, menurut Murat Aslan, hanya akan bisa sukses jika dilakukan dengan tujuan jelas. Padahal, sedari awal menyerang Iran sebulan lalu, tak pernah jelas apa yang hendak dicapai Amerika Serikat (AS) dan Israel.

“Tak adanya tujuan jelas ini mengganggu perencanaan militer, bermuara pada postur militer yang tak sesuai dan berkurangnya dampak strategis yang dituju,” tulis Associate Professor of International Relations di Hasan Kalyoncu University Turki dan SETA Senior Researcher tersebut dalam kolomnya di Anadolu Agency.

Tanpa harus menunggu AS-Israel melakukan serangan darat, dampak absennya tujuan jelas yang hendak dicapai itu sudah terlihat.

Iran memang kehilangan sejumlah tokoh, tapi mereka masih kokoh melancarkan serangan ke berbagai aset AS di sekitar kawasan Teluk Persia dan tak henti merudal berbagai sudut Israel.

Dua kapal induk AS, USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, sampai harus menjauh dari titik konflik. Belasan pangkalan militer Negeri Paman Sam itu juga berantakan setelah jadi sasaran serangan Iran.

Presiden AS Donald Trump sampai harus meminta biaya tambahan perang ke Kongres. Kepala Staf Gabungan Israel Eyal Zamir juga menyebut, militer negaranya dalam titik kritis setelah berperang selama 900 hari, termasuk di Gaza.

Jika masih nekat melakukan serangan darat, apokalips atau kiamat bagi kedua negara tersebut bakal semakin sempurna.

Benteng Alami

Puluhan ribu serdadu memang tengah dimobilisasi kedua negara tersebut untuk bersiap melakukan penyerbuan darat ke Iran. AS bahkan sudah menyebut Kharg Island sebagai tujuan pertama, tempat mayoritas ekspor minyak Iran diatur.

Namun, mengutip Kantor Berita Tasnim, Iran telah menyiapkan sejuta serdadu untuk menghadapi kemungkinan serbuan itu. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, ada gelombang anak muda yang sukarela mendaftar ke markas milisi Basij, Garda Revolusi, dan Angkatan Darat Iran.

“Kami tak sabar untuk menciptakan ‘neraka bersejarah’ bagi mereka,” kata sumber di militer Iran.

Neraka bersejarah itu bukan sekadar gertakan. Selain keunggulan jumlah pasukan, Iran juga sangat diuntungkan wilayah geografis. Dengan lebih dari 50 persen wilayah berupa pegunungan, lembah, dan dataran tinggi, hal itu menjadi benteng alami yang bakal menyulitkan pergerakan lawan.

Bagi Iran, kondisi geografi yang dikelilingi gunung, lembah, dataran tinggi, dan laut adalah kekuatan yang berlipat-lipat. Garda Revolusi sudah menyusun doktrin Anti-Access/Area-Denial (A2/AD), mirip strategi yang diterapkan Tiongkok di Laut China Selatan. Skema itu memungkinkan Teheran untuk menangkal lawan tanpa harus memicu perang penuh.

Iran punya pagar alami yang menyulitkan siapa saja menyerbu mereka, baik lewat laut maupun darat.

“Tak ada wilayah di Iran yang ideal untuk pendaratan pasukan. Karenanya, harusnya tak ada pendaratan apa pun,” kata Jacques Hogard mantan perwira Angkatan Darat Prancis yang pernah menjadi staf ahli di NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara), kepada Sputnik.

Ancam Caplok Pesisir Bahrain-UEA

Seperti sudah mereka buktikan sejauh ini, Iran membuktikan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan serangan. Jika serbuan darat benar dilakukan kedua musuhnya, Iran mengancam akan mencaplok pesisir Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA).

Bahrain dulunya wilayah Iran sebelum Shah Iran menyerahkannya ke Inggris pada 1971. Adapun UEA dulu bagian dari Oman. UEA merupakan negara Teluk yang paling dekat dengan Israel dan konon yang paling menyokong AS agar terus memerangi Iran.

“Mendarat di pesisir UEA dan Bahrain ada dalam agenda Iran dan menjadi menu latihan pasukan,” kata seorang analis keamanan Iran dalam wawancara dengan Sepehr TV.

Di tengah eskalasi, negeri yang dulu bernama Persia itu juga memperluas sasaran serangan. Juru Bicara Militer Abolfazl Shekarchi menegaskan, hotel yang ditempati pasukan AS akan dianggap sebagai target militer.

“Ketika semua pasukan Amerika memasuki sebuah hotel, dari sudut pandang kami, hotel itu menjadi milik Amerika,” ujarnya.

Pernyataan ini diperkuat Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang menuding militer AS menggunakan warga sipil di negara-negara Teluk Persia sebagai tameng. “Sejak awal perang ini, tentara AS melarikan diri dari pangkalan militer di GCC untuk bersembunyi di hotel dan kantor,” katanya, seperti dikutip Al Jazeera.

Di tengah ketegangan itu, Trump pada Kamis (26/3) mengumumkan penundaan tenggat ultimatum kepada Iran hingga 6 April nanti. Ia sebelumnya mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran dalam 48 jam jika Teheran tidak membuka jalur aman tanker di Selat Hormuz.

Namun, tenggat itu beberapa kali diundur dengan alasan adanya sinyal pembicaraan. Trump mengklaim, penundaan dilakukan atas permintaan Iran, pernyataan yang langsung dibantah tegas Teheran. “Pembicaraan sedang berlangsung dan berjalan dengan sangat baik,” tulis Trump di media sosialnya, seperti dikutip dari Times of Israel.

Penundaan berulang ini memperlihatkan AS masih sangat mempertimbangkan risiko eskalasi. Terutama di tengah kesiapan Iran menghadapi perang darat dan serangan balasan yang tiada henti. (lyn/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#tentara #Amerika Serikat #Israel #Teheran #iran #pasukan