Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nyaris Rp 17.000 per Dolar, Menkeu Buka Suara soal Rupiah dan Isu BI

M
Penulis: Marthadi❯

Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (22/7/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (22/7/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
LombokPost - Rupiah kembali jadi sorotan. Pada pembukaan perdagangan Selasa (20/1), nilai tukar rupiah nyaris menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS, memicu spekulasi pasar dan kekhawatiran investor.


Advertisement

Data perdagangan menunjukkan rupiah dibuka melemah 30 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp 16.985 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.955.

Pelemahan tersebut langsung dikaitkan dengan dinamika internal Bank Indonesia (BI), menyusul mencuatnya nama Thomas Djiwandono sebagai kandidat Deputi Gubernur BI. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis keras anggapan tersebut.

Menurut Purbaya, tekanan terhadap rupiah tidak ada kaitannya dengan isu personal atau politik di tubuh BI.

Advertisement

“Rupiah itu tergantung fundamental ekonomi. Dan fundamental kita kuat,” tegas Purbaya kepada awak media, Selasa (20/1).

Ia menunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.133 sebagai bukti nyata kuatnya kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

“Kalau indeks sampai ke level itu, pasti ada aliran modal asing masuk. Tidak mungkin hanya sentimen domestik,” ujarnya.

Advertisement

Masuknya dana asing tersebut, lanjut Purbaya, akan memperkuat suplai dolar AS di dalam negeri dan pada akhirnya menopang penguatan rupiah.

“Jadi tinggal tunggu waktu saja. Suplai dolar bertambah, rupiah akan menguat,” katanya optimistis.

Meski demikian, Purbaya mengakui bahwa pelemahan rupiah saat ini sebagian dipicu spekulasi pasar, terutama terkait kekhawatiran terhadap independensi BI akibat masuknya nama Thomas Djiwandono—yang juga menjabat Wakil Menteri Keuangan—dalam bursa calon Deputi Gubernur.

“Orang berspekulasi, wah independensi BI hilang. Saya pikir tidak akan begitu,” tegasnya.

Ia menilai sentimen tersebut hanya bersifat sementara dan akan terkoreksi seiring berjalannya waktu.

“Nanti kalau sudah insaf, rupiahnya akan menguat lagi,” ujarnya.

Lebih jauh, Purbaya memastikan pemerintah tetap berkomitmen menjaga fondasi ekonomi nasional agar tetap solid dan berkelanjutan.

“Kita jaga fundamental supaya makin kuat. Pertumbuhan ekonomi ke depan akan semakin cepat,” pungkasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rupiah Tembus Rp 18.015 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah, Dunia Usaha Mulai Tertekan

Rupiah Tembus Rp 18.015 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah, Dunia Usaha Mulai Tertekan

Rupiah melemah hingga Rp18.015 per dolar AS, rekor terendah sepanjang sejarah. Biaya impor naik, dunia usaha mulai tertekan.

Menkeu Purbaya Tunda Pajak Marketplace 0,5 Persen karena Daya Beli Belum Kuat

Menkeu Purbaya Tunda Pajak Marketplace 0,5 Persen karena Daya Beli Belum Kuat

Purbaya menunda penerapan PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen atas transaksi marketplace karena daya beli masyarakat dinilai belum cukup kuat.

Dolar Menggila, Harga Oli Melonjak Tiga Kali dalam Dua Bulan

Dolar Menggila, Harga Oli Melonjak Tiga Kali dalam Dua Bulan

harga oli standar yang mencapai Rp 20 ribu per botol, memicu kekhawatiran pelaku usaha akan potensi maraknya peredaran pelumas palsu di pasa

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer