
LombokPost - Perhotelan NTB, khususnya kategori city hotel, tengah menghadapi tantangan berat pada triwulan pertama tahun 2026.
Kombinasi periode low season yang berbarengan dengan momentum Ramadan membuat tingkat hunian kamar atau okupansi hotel merosot tajam.
Kondisi ini memaksa para pelaku usaha hotel untuk memutar otak dalam menjaga keberlangsungan operasional. Terlabih di tengah minimnya kunjungan wisatawan dan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
Baca Juga: Okupansi Hotel di Sekotong Anjlok 50 Persen Saat Libur Lebaran
Ketua Asosiasi Hotel Kota Mataram (AHM) I Made Adiyasa mengatakan, penurunan okupansi pada awal tahun sebenarnya merupakan pola tahunan. Namun, tahun ini dirasakan lebih menantang bagi para pengusaha hotel.
"Tahun ini makin tertekan karena bertepatan dengan momentum Ramadan," ujar Adiyasa.
Menurut data AHM, rata-rata tingkat hunian hotel di Mataram saat ini hanya berada di kisaran 20-35 persen.
Angka ini jauh dari ambang batas ideal untuk mencapai keuntungan optimal, mengingat biaya operasional hotel yang tetap berjalan tinggi.
Meski kondisi saat ini masih belum menggembirakan, para pelaku industri perhotelan tetap optimis menatap sisa tahun 2026. Harapan besar kini digantungkan pada rencana penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan tahun ini.
Adiyasa menegaskan, event olahraga berskala besar merupakan penyelamat yang paling dinanti untuk mendongkrak angka hunian yang sedang lesu. "Kalau Juli jadi Porprov, pasti bagus. Itu bisa mendongkrak hunian hotel secara signifikan," tegasnya.
Event tersebut diprediksi akan mendatangkan ribuan atlet, official, hingga penonton dari 10 kabupaten/kota di NTB. Kehadiran massa dalam jumlah besar ini secara otomatis akan memenuhi kamar-kamar hotel. Terutama di wilayah Kota Mataram yang menjadi pusat kegiatan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




