
LombokPost--Pemerintah mengalihkan sebagian pasokan gas yang sebelumnya diekspor ke Singapura untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga pasokan bagi pembangkit listrik dan industri. Juga meningkatkan utilisasi manufaktur yang saat ini baru sekitar 70 persen.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pengurangan ekspor gas pipa ke Singapura mencapai 31 billion British thermal units per day (BBTUD).
Volume tersebut sekitar 8 persen dari total ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura yang mencapai 409,55 BBTUD.
Bahlil menyebut pengurangan pasokan dilakukan karena pemeliharaan fasilitas produksi serta meningkatnya kebutuhan domestik.
Dia menegaskan, penyesuaian tersebut masih berada dalam batas kontrak yang berlaku.
”31 BBTUD yang kita potong itu masih dalam batas kontrak minimum,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (26/10).
Bahlil memastikan, Indonesia mematuhi kontrak yang ada. Selain itu, dia menyinggung negara lain yang belakangan mengolok-ngolok Indonesia.
Meski begitu, Bahlil tidak menyampaikan secara pasti apakah pengurangan gas ke Singapura juga didasari karena salah satunya sentimen antarnegara tersebut.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




