
LombokPost - Saham syariah dinilai memiliki karakteristik khusus yang membuatnya lebih tangguh menghadapi fluktuasi pasar modal dibandingkan saham konvensional.
Kondisi ini membuat instrumen investasi syariah relatif lebih stabil di tengah berbagai tekanan ekonomi yang melanda saat ini.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menjelaskan, ketahanan tersebut bersumber dari komposisi sektor yang tidak melibatkan saham perbankan.
Mengingat sektor keuangan saat ini menjadi salah satu bidang yang paling banyak tertekan, ketiadaan saham perbankan memberikan perlindungan tambahan bagi indeks saham syariah.
"Kalau kita lihat sektor yang paling banyak tertekan, sektor keuangan, terutama perbankan, dan tentu itu tidak ada di saham syariah. Jadi, memang seharusnya tekanan di saham syariah itu lebih sedikit," kata Jeffrey.
Selain faktor komposisi sektor, perilaku investor syariah turut berperan dalam menjaga stabilitas pasar.
Investor yang berpegang pada prinsip syariah umumnya tidak memanfaatkan fasilitas transaksi margin berbasis bunga.
Hal tersebut meminimalisir risiko terjadinya margin call atau penjualan paksa saham oleh sekuritas saat pasar sedang melemah.
"Jadi, daya tahan produk maupun investornya yang syariah akan lebih baik," tambah Jeffrey.
Meski memiliki daya tahan lebih tinggi, Jeffrey menegaskan bahwa saham syariah tidak sepenuhnya bebas dari risiko pasar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




