Uniknya, makanan yang terbuat dari pati ubi kayu dan kelapa parut ini dijadikan piring dan dimakan bersamaan dengan pelecing kangkung, urap-urap, dan bihun goreng.
”Karena ini akan langsung jadi piring buat pelecing dan bihun goreng, bisa langsung dimakan. Makanya, kalau bule-bule lihat, mereka ketawa karena piringnya bisa langsung dimakan juga,” ujar Murniati, penjual opak-opak di Sigar Penjalin, Lombok Utara, belum lama ini.
Opak-opak diklaimnya sebagai makanan sehat, sebab tidak dimasak menggunakan minyak goreng.
Opak-opak yang sudah jadi biasanya dibakar hingga matang menggunakan arang. Kemudian dikemas dengan plastik untuk dijual.
Proses pembuatan opak opak ini biasanya memakan waktu hingga beberapa hari. Dimulai dari proses pemilihan bahan baku yang berkualitas, kemudian ubi diparut dan digiling hingga halus menjadi sari pati.
”Lalu dicampur dengan santan, kelapa parut, dan sedikit garam,” sambung perempuan berhijab ini.
Setelah itu, adonannya dicetak menggunakan piring besi atau teflon kecil, kemudian dimasak menggunakan api kecil. Kemudian adonan yang sudah matang itu dijemur selama 2-3 hari, sampai kering.
Opak-opak yang kering kemudian dibakar bolak balik menggunakan arang.
”Jemurnya jangan sampai terlalu kering, karena kalau terlalu kering nanti hasilnya pecah,” jelasnya.
Satu kilogram adonan bisa menghasilkan puluhan keping opak-opak.
Ukuran yang dibuat ada tiga, besar, sedang, dan kecil.
Satu bungkus opak-opak ukuran sedang isinya empat keping dijual Rp 3.000 atau Rp 10 ribu per empat bungkus.
Satu bungkus opak-opak ukuran besar juga berisi empat keping dan dijual seharga Rp 5.000.
Sedangkan satu bungkus opak-opak ukuran kecil juga isi empat keping dijual seharga Rp 2.000 atau Rp 10 ribu per 5 bungkus.
Tak hanya masyarakat lokal, cemilan khas Lombok Utara ini juga digemari wisatawan, bahkan wisatawan asing.
Banyak dari mereka membeli opak-opak untuk dinikmati ketika duduk santai di pinggir pantai.
”Apalagi di gili, banyak turis yang senang beli opak-opak,” tambahnya.
Dalam sehari, Murni bisa berjualan hingga puluhan bungkus opak-opak.
Bahkan satu orang bisa membeli hingga 10 bungkus bahkan lebih. Itu dijadikan cemilan di perjalanan hingga oleh-oleh untuk kerabat dan lainnya.
”Terutama yang balik ke Mataram, Lobar, bahkan ke Jawa pun suka beli banyak untuk dibawa pulang,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida