Hal ini disebabkan oleh dominasi ekspor dalam bentuk bahan mentah atau raw material.
“Kontribusi tambang terhadap ekonomi daerah memang ada, tetapi nilai tambah ekonominya relatif rendah karena kita masih mengirim bahan mentah ke luar,” jelas Ekonom NTB H Iwan Harsono.
Iwan menilai, langkah pemerintah yang kini mendorong hilirisasi melalui pembangunan smelter sudah benar.
Walau memakan waktu dan berdampak pada perlambatan jangka pendek, smelter adalah harga mati untuk kedaulatan ekonomi jangka panjang.
“Pemerintah dan masyarakat perlu bersabar. Smelter harus tuntas terlebih dahulu. Begitu beroperasi, nilai tambah tambang yang mengalir ke daerah akan jauh lebih besar,” terangnya.
Selain smelter, Iwan juga merespons positif wacana pembentukan koperasi pertambangan rakyat sebagai upaya memeratakan kue hingga lapisan bawah.
Namun, ia memberikan catatan kritis terkait perlunya payung hukum yang kuat.
Menariknya, Iwan mengungkapkan fakta anomali pada data ekonomi NTB tahun 2025.
Meski secara agregat (termasuk tambang) pertumbuhan ekonomi NTB berada di kisaran 4-5 persen, sektor non-tambang justru menunjukkan performa yang jauh lebih impresif.
“Jika kita bedah tanpa sektor tambang, khususnya pada triwulan III kemarin, pertumbuhan ekonomi NTB hampir menyentuh angka 7 persen. Ini angka yang luar biasa,” tuturnya.
Sektor pertanian menurutnya, tetap menjadi tulang punggung yang paling krusial karena menyerap mayoritas tenaga kerja.
Penguatan pada sektor non-tambang seperti pertanian, pariwisata, dan UMKM dinilai jauh lebih strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi warga.
Optimisme kini juga muncul didasarkan pada efektivitas eksekusi program pembangunan pasca-transisi.
Jika desain program dalam RPJM dan inovasi pemerintah dibarengi dengan penyerapan anggaran yang tepat sasaran, maka ekonomi NTB akan melesat lebih tinggi.
“Jika semua berjalan sesuai perencanaan dan anggaran benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, saya optimis pertumbuhan ekonomi NTB tahun depan (2026) akan jauh lebih baik,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida