LombokPost-Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat data akhir tahun 2025 menunjukkan lonjakan kinerja ekspor yang luar biasa. Namun hal ini dibayangi oleh tekanan inflasi yang kuat, terutama dari sektor pangan.
Menurut Kepala BPS NTB Wahyudin menilai ekspor NTB pada November 2025 mencatatkan peningkatan fantastis, melonjak hingga 5.792,07 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja eksplosif ini didorong oleh ekspor besar-besaran komoditas tambang dalam bentuk konsentrat.
“Kenaikan ekspor ini merupakan angin segar bagi perekonomian daerah, di mana komoditas Galian/Tambang Nonmigas, Tembaga, dan Perhiasan menjadi pendorong utama. Tiongkok, Swiss, dan Jepang menjadi tujuan ekspor terbesar kami,” jelas Wahyudin, Senin (5/1).
Sementara itu, laju inflasi tahunan (y-on-y) pada Desember 2025 mencapai 3,01 persen. Inflasi ini didominasi oleh kenaikan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
Penyumbang utama tekanan harga adalah cabai rawit, bawang merah, dan tomat. Kondisi cuaca yang tidak mendukung menyebabkan hasil panen lokal tidak optimal, ditambah lagi berkurangnya stok bawang merah karena tingginya permintaan dari luar daerah.
“Meskipun ada penurunan harga pada ikan dan subsidi tarif angkutan jelang Nataru, tekanan dari komoditas hortikultura dan tren kenaikan harga emas perhiasan masih mendominasi inflasi,” tambahnya.
Namun, kabar baik datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Desember 2025 tercatat sebesar 134,14, naik sebesar 4,50 persen dari bulan sebelumnya.
Angka di atas 100 ini menunjukkan bahwa harga yang diterima petani (It) naik jauh lebih tinggi (5,76% persen) dibandingkan biaya yang harus mereka bayar (Ib), menandakan peningkatan signifikan pada daya beli dan kesejahteraan petani di perdesaan.
“Seluruh subsektor pertanian, termasuk Hortikultura yang mencapai 255,85, menunjukkan daya tukar yang sangat kuat,” cetusnya.
Sementara untuk sektor pariwisata, kata dia, menunjukkan tren perlambatan di bulan November 2025 setelah gegap gempita MotoGP di bulan Oktober. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) baik hotel bintang maupun non-bintang mengalami penurunan (m-to-m).
Data menunjukkan penurunan jumlah wisatawan Nusantara dan mancanegara, serta penumpang yang datang dan berangkat melalui BIZAM, setelah berakhirnya musim acara besar. Penurunan juga terjadi di sektor transportasi laut akibat faktor cuaca.
“Jumlah penumpang yang datang melalui angkutan laut pada bulan November 2025 turun sebesar 33,79 persen dibandingkan bulan Oktober 2025. Demikian pula jumlah penumpang berangkat, turun sebesar 33,83 persen,” tukas Wahyudin.
Editor : Kimda Farida