
LombokPost - Getek bambu yang tak menarik bayaran menjadi gantungan transportasi anak-anak pergi-pulang ke sekolah dan mengaji setelah putusnya jembatan di Jubung, Jember. Dua bulan berlalu, belum ada perhatian dari pihak berwenang terhadap jembatan tersebut.
RANO tak bisa membayangkan kalau Muhammad Soleh tak berinisiatif membuat getek atau rakit. Bisa jadi, dia bakal sering sekali terlambat datang ke sekolah.
Sebab, dari rumahnya di Dusun Darungan Utara ke sekolah yang terletak di Dusun Darungan Selatan yang sama-sama masuk Desa Jubung harus memutar jauh kalau lewat jalan darat. Termasuk melintasi jalan raya penghubung Jember-Banyuwangi, Jawa Timur, yang banyak dilalui kendaraan besar.
Baca Juga: Bupati Lotim Minta Program 2027 Tepat Sasaran, Jembatan Putus Jadi Prioritas
“Naik geteknya Pak Soleh jadi lebih cepat sampai ke sekolah. Tapi, harus berangkat pagi sekali karena jalan kaki ke tempat getek, termasuk nanti ke sekolahnya,” kata siswa kelas IV SDN Jubung 02 itu kepada Radar Jember Grup Jawa Pos sebelum menyeberangi Sungai Bedadung, Rabu (15/4) pagi.
Rano tak sendirian. Ada sejumlah siswa TK Budi Utomo dan siswa SMKN 5 Jember lain yang juga bergantung kepada getek Soleh untuk berangkat dan pulang sekolah. Juga mereka yang pergi-pulang kerja.
Semua akibat putusnya jembatan gantung yang memisahkan kedua dusun di Jember itu pada 12 Februari lalu setelah diterjang banjir bandang. Jembatan yang baru selesai diperbaiki pada 6 Januari tahun ini tersebut juga mengoneksikan dua desa yang berada di dua kecamatan berbeda di kabupaten yang sama: Jubung di Kecamatan Sukorambi dengan Panca Karya di Kecamatan Ajung.
Baca Juga: Jembatan Pancor-Sekarteja Nyaris Putus
Soleh tergerak membuat getek dari bambu setelah melihat banyak warga yang kesulitan untuk sekadar mengantarkan anak-anak mereka sekolah. “Tak semua orang tua punya motor. Saya bikin getek agar jangan sampai ada anak-anak yang tidak sekolah,” kata Soleh yang menggratiskan layanannya itu.
Getek Soleh sederhana, terbuat dari 14 batang bambu dengan panjang sekitar 6 meter yang dibagi dua. Masing-masing terdiri atas 7 batang bambu yang diapit menjadi satu.
Di bagian bambu yang sudah dirakit itu, di atasnya dipasang anyaman bambu berukuran 1,1 meter persegi untuk dijadikan alas. Sebagian orang tua memilih mendampingi anak-anak mereka naik getek tersebut.
“Tiap hari saya ikut naik getek, mengantarkan anak sampai ke seberang, terus nanti menjemputnya saat pulang,” kata Hotimah, warga Darungan Utara.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




