Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Senyapnya Mesin Listrik Memutus Rantai Utang Nelayan Labuan Pandan

A
Penulis: Akbar Sirinawa❯
Sejumlah nelayan berada di dekat sampan di tepi pantai Desa Labuan Pandan, Lombok Timur, Sabtu (17/10). Nelayan setempat menggunakan mesin listrik bantuan PLN untuk mengurangi biaya bahan bakar saat melaut.
Sejumlah nelayan berada di dekat sampan di tepi pantai Desa Labuan Pandan, Lombok Timur, Sabtu (17/10). Nelayan setempat menggunakan mesin listrik bantuan PLN untuk mengurangi biaya bahan bakar saat melaut.

Advertisement

LombokPost-Laut sedang surut ketika Rosidi tampak memeriksa mesin hitam di buritan perahu biru. Baling-balingnya menggantung dekat bebatuan, dengan pasir gelap terbentang di bawahnya.

”Hari ini libur dulu (melautnya). Anginnya lagi nggak bagus,” kata Rosidi, nelayan kecil asal Desa Labuan Pandan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/10).

Di hadapannya, tepian Labuan Pandan sedang melebar. Air yang surut menyingkap batu-batu berlapis hijau. Beberapa perahu bercadik masih mengapung, sementara perahu-perahu lain berada di sepanjang pantai. Sekitar pukul 10 pagi, bayangan tubuh dan lambung perahu jatuh tegas di atas pasir.

Advertisement

Rosidi kemudian menyandarkan satu lengannya pada tepian perahu. Mesin hitam itu berada tepat di sisinya.

”Ini mesin bantuan dari PLN, mesin listrik. Agustus kemarin diberikan,” ujarnya.

Bagi nelayan kecil seperti Rosidi, mesin tersebut bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan penyelamat urusan dapur. Rosidi kini bisa meninggalkan pantai dengan ongkos bahan bakar yang lebih sedikit. Ia tidak perlu mencari pinjaman sebesar dulu untuk perjalanan yang belum tentu membawa pulang banyak ikan.

Jauh sebelum mesin senyap itu singgah, ritual melaut di Labuan Pandan selalu diawali dengan kecemasan. Rosidi mengatakan, nelayan di Labuan Pandan kerap berutang sebelum melaut. Mereka mendatangi warung-warung di Labuan Pandan untuk berutang bahan bakar hingga keperluan melaut lainnya.

”Sering kali. Kadang-kadang ngutang juga untuk nyambung hidup sehari-hari,” ungkap Rosidi lantas terbahak.

Di masa musim angin timur, Rosidi melaut hingga ke Bayan, di perairan Kabupaten Lombok Utara. Menuju bagan-bagan apung yang berada di laut lepas. Untuk ke sana, waktu yang dibutuhkan Rosidi bisa mencapai 3 sampai 4 jam.

Sebelum adanya mesin listrik dari PLN, sampan Rosidi melaju menggunakan mesin ketinting. Untuk satu kali perjalanan menuju bagan apung, dibutuhkan modal hingga Rp 400 ribu. Angka ini bisa membengkak dua kali lipat jika bagan apungnya berjarak puluhan kilometer dari daratan Bayan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Peringati Sumpah Pemuda, PLN Sumbawa Salurkan Sarana Kebersihan untuk 165 Guru dan Santri Al Wihdah

Peringati Sumpah Pemuda, PLN Sumbawa Salurkan Sarana Kebersihan untuk 165 Guru dan Santri Al Wihdah

PLN Sumbawa salurkan bantuan sarana kebersihan untuk 165 guru dan santri Al Wihdah di momentum Sumpah Pemuda. Wujud nyata kepedulian sosial.

PLN Bangun Fasilitas Penggilingan Padi Listrik di Manggarai

PLN Bangun Fasilitas Penggilingan Padi Listrik di Manggarai

PLN UIP Nusra bangun rumah panen padi berbasis listrik di Desa Wewo, Manggarai untuk dukung petani lepas dari ketergantungan BBM.

Srikandi PLN Selaparang Jadi Relawan Guru di Lombok Utara

Srikandi PLN Selaparang Jadi Relawan Guru di Lombok Utara

Seorang Srikandi PLN Selaparang terpilih jadi relawan 1000 Guru Lombok, sisihkan 700 pendaftar untuk mengajar anak-anak di Lombok Utara.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer