
LombokPost-Laut sedang surut ketika Rosidi tampak memeriksa mesin hitam di buritan perahu biru. Baling-balingnya menggantung dekat bebatuan, dengan pasir gelap terbentang di bawahnya.
”Hari ini libur dulu (melautnya). Anginnya lagi nggak bagus,” kata Rosidi, nelayan kecil asal Desa Labuan Pandan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/10).
Di hadapannya, tepian Labuan Pandan sedang melebar. Air yang surut menyingkap batu-batu berlapis hijau. Beberapa perahu bercadik masih mengapung, sementara perahu-perahu lain berada di sepanjang pantai. Sekitar pukul 10 pagi, bayangan tubuh dan lambung perahu jatuh tegas di atas pasir.
Rosidi kemudian menyandarkan satu lengannya pada tepian perahu. Mesin hitam itu berada tepat di sisinya.
”Ini mesin bantuan dari PLN, mesin listrik. Agustus kemarin diberikan,” ujarnya.
Bagi nelayan kecil seperti Rosidi, mesin tersebut bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan penyelamat urusan dapur. Rosidi kini bisa meninggalkan pantai dengan ongkos bahan bakar yang lebih sedikit. Ia tidak perlu mencari pinjaman sebesar dulu untuk perjalanan yang belum tentu membawa pulang banyak ikan.
Baca Juga: Rayakan HLN Ke-81, Dirut PLN Tekankan Percepatan Transisi Energi Hijau
Jauh sebelum mesin senyap itu singgah, ritual melaut di Labuan Pandan selalu diawali dengan kecemasan. Rosidi mengatakan, nelayan di Labuan Pandan kerap berutang sebelum melaut. Mereka mendatangi warung-warung di Labuan Pandan untuk berutang bahan bakar hingga keperluan melaut lainnya.
”Sering kali. Kadang-kadang ngutang juga untuk nyambung hidup sehari-hari,” ungkap Rosidi lantas terbahak.
Di masa musim angin timur, Rosidi melaut hingga ke Bayan, di perairan Kabupaten Lombok Utara. Menuju bagan-bagan apung yang berada di laut lepas. Untuk ke sana, waktu yang dibutuhkan Rosidi bisa mencapai 3 sampai 4 jam.
Sebelum adanya mesin listrik dari PLN, sampan Rosidi melaju menggunakan mesin ketinting. Untuk satu kali perjalanan menuju bagan apung, dibutuhkan modal hingga Rp 400 ribu. Angka ini bisa membengkak dua kali lipat jika bagan apungnya berjarak puluhan kilometer dari daratan Bayan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




