Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenang Sosok Meriyati Roeslani, Istri Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng yang Wariskan Pesan Jaga Institusi Polri

Lombok Post Online • Kamis, 5 Februari 2026 | 08:14 WIB
PENGHORMATAN TERAKHIR: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menaburkan bunga di atas makam Meriyati Roeslani yang dikebumikan di TPBU Giritama, Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Rabu (4/2).
PENGHORMATAN TERAKHIR: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menaburkan bunga di atas makam Meriyati Roeslani yang dikebumikan di TPBU Giritama, Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Rabu (4/2).

LombokPost - "Jadilah contoh. Jadilah teladan. Mulai dari dirimu sendiri." Pesan singkat nan bermakna inilah yang sempat dititipkan mendiang Meriyati Roeslani Hoegeng untuk institusi kepolisian di Indonesia.

Istri sang Kapolri "legendaris" Hoegeng Iman Santoso itu telah dikebumikan di Taman Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giritama, Desa Tonjong, Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Rabu (4/2). Ia dimakamkan tepat sebelah sang suami yang telah lebih dulu beristirahat tenang, sejak 2004 silam.

Pemakaman dilakukan secara resmi dalam upacara militer. Sejumlah tokoh dan figur nasional ikut menyertai kepergian Eyang Meri, begitu kerap ia disapa. Karena jejak-jejak kebajikannya, namanya abadi dikenang, seperti sang suami yang meninggalkan nilai moralitas dan integritas sebagai seorang polisi.

‎‎"Hari ini kita seluruh keluarga besar Polri dan Bhayangkari telah menghantar almarhum Eyang Meriyati Hoegeng untuk kembali kepada pangkuan dan tentunya kami berdoa semua agar beliau diterima dan diberikan tempat terbaik di surga yang mulia disisi Allah SWT," kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Sigit melihat bahwa, semasa hidupnya mendiang Meri banyak sekali memberikan pesan menginspirasi untuk institusi Polri dalam menjaga integritas dan teladan Polri.‎ ‎"Beliau (selalu berpartisipasi) dalam kegiatan yang kami lakukan. Antara lain, beberapa kali kami melaksanakan Hoegeng Award. Ini sebagai upaya kami untuk mengikuti teladan yang diberikan oleh almarhum Hoegeng yang selalu disampaikan oleh Eyang Meri," jelas dia.

‎Tak hanya itu, mendiang Meri juga berpesan dalam setiap kegiatan agar selalu menjadi polisi yang baik, memiliki integritas serta polisi yang melindungi dan mengayomi.

‎"Tadi malam kami mendengar langsung suara beliau yang direkam oleh Mas Rama, bagaimana beliau selalu menyampaikan pesan, jadilah contoh, jadilah teladan, mulai dari dirimu sendiri. Saya kira, hal tersebut menjadi spirit bagi kami keluarga besar Polri," terang dia.

Semua itu, lanjut Sigit, menjadi wasiat yang harus dijaga oleh Polri. Bahkan, perlu dikumandangkan menjadi semangat bersama seluruh keluarga besar Polri.

Di saat-saat terakhirnya, pesannya cukup jelas untuk selalu menjaga institusi Polri, yang juga pernah membesarkan suaminya, Hoegeng.

‎‎Menurut Sigit, pesan-pesan yang disampaikan mendiang Meri memiliki makna yang mendalam bahwa Polri harus bisa mengikuti teladan. Betul-betul menjadi contoh, memberikan perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat hingga bertanggung jawab sebagaimana tugas pokok Polri.

‎‎"Saya kira, banyak hal yang kami kenang dari Eyang Hoegeng (sang suami). Selamat jalan, Eyang Meri Hoegeng dan kami berterima kasih atas apa yang telah beliau berikan kepada kami, warisan dari pendahulu utamanya, almarhum Hoegeng Iman Santoso yang tentunya ini akan terus menjadi api yang menggelora diseluruh keluarga Polri untuk menjaga wasiat warisan tersebut," tekannya.

Bintang Bhayangkara Pratama

Pemerintah Indonesia pun memberikan tanda kehormatan Bintang Bhayangkara Pratama kepada mendiang Meriyati Roeslani Hoegeng atas dedikasi memberikan kontribusi untuk negara dan institusi Polri. Hal itu dituangkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 9/PK/2026 tentang penganugerahan tanda kehormatan Bintang Bhayangkara Pratama.

‎Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa Polri sangat menghormati dan menghargai atas banyak hal yang selalu mendiang titipkan untuk institusi kepolisian.

Menurut Sigit, semasa hidup beliau selalu memberikan spirit atau semangat dalam situasi yang dibutuhkan. ‎"Saya kira itu menjadi bentuk kehormatan bagi kami dari keluarga besar Polri dari Negara untuk beliau," ujar dia.

Sekadar diketahui, Meriyati Hoegeng wafat di usia 100 tahunnya di RS Bhayangkara Polri, Selasa (3/2) pada pukul 13.24 WIB, karena sakit. Mendiang meninggalkan tiga anak, 5 cucu, dan 1 cicit.

Sang anak, Aditya Sutanto Hoegeng mengenang sosok ibunya yang sangat penyabar dalam mendidik anak. ‎"Ibu adalah seorang yang penyabar. Dalam mendidik kita, anak-anak, itu tidak pernah sekalipun mempergunakan tangan. Tapi kata-katanya, nasihatnya itu yang sangat dalam buat kita," kata Aditya.

Aditya ingat betul bagaimana sang ayah dan ibu berpesan agar tidak memanfaatkan fasilitas dinas dan selalu hidup dalam kesederhanaan. "Kita tidak pernah merasakan fasilitas tidak boleh mempergunakan fasilitas dinas dan itu semua ayah sampaikan ke ibu, ibu turunkan ke kami. Allhamdulillah kami bisa menjalani semua itu dengan baik," jelas dia.

‎‎Jika Hoegeng diingat sebagai seorang polisi yang sangat berintegritas, tentunya ada sosok yang hebat selalu mendampinginya, yaitu Meri.

‎‎Aditya pun bersyukur dengan penganugerahan Bintang Bhayangkara Pratama untuk ibunya, Baginya, penghargaan jasa itu bukan keinginan keluarga. Melainkan sebagai bukti bahwa kepedulian mendiang Meri sangat diakui oleh masyarakat.

‎‎"Soal menerima bintang jasa itu, tentunya dengan melalui satu pertimbangan. Dan kami keluarga juga tidak sedikit pun mendorong untuk mendapatkan, itu semuanya diakui oleh masyarakat. Jadi dinilai oleh masyarakat sendiri, bukan kami. Kami hanya menjalani apa yang disampaikan oleh almarhum bapak dan diteruskan oleh ibu," tegasnya.

Ahok: Beliau Terus Kirim Makanan

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok juga ikut mendampingi hingga pemakaman. Ia sudah menganggap mendiang Meri sebagai orang tua sendiri yang selalu mengajarkan tentang kejujuran.

‎"Beliau berpulang dengan sangat tenang dan sangat menerima. Tuhan pasti menyediakan tempat yang terbaik buat Ibu Meri," kata Ahok, yang juga sempat menunggui mendiang di ICU RS Bhayangkara Polri.

‎Baginya, Meri sudah seperti ibunya sendiri yang selalu terus mengingatkan tentang kejujuran, adil, dan kasih sayang untuk membela kemanusiaan.  ‎

‎"Itu terus beliau inginkan kita lakukan. ‎Hubungannya seperti orang tua. Dalam doa pagi saya pun, beliau saya masukkan dalam doa seperti untuk ibu saya sendiri. Saya bersyukur kemarin betul-betul bisa menunggu sampai napas terakhir beliau. ‎Hari ini saya datang untuk mengantar beliau ke tempat istirahat terakhir," jelas dia.

Ia mengungkapkan sebuah momen yang tak bakal pernah dilupakannya. Kala dirinya ditahan, mendiang Meri selalu mengirimkan makanan untuk dirinya. ‎"Waktu saya di tahanan, beliau masak dan kirim makanan ke saya. Beliau selalu, bahkan, datang langsung, terus kirim makanan. Itu sangat berkesan buat saya," kenangnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Polisi #bhayangkara #Kapolri #Polri #warisan