LombokPost - Bagi Dewi Nur'aeni Setyowati, deru angin di Kota Tainan, Taiwan, membawa nuansa yang berbeda setiap kali bulan suci Ramadan tiba. Mahasiswi program PhD di Department of Biotechnology and Bioindustry Sciences, National Cheng Kung University (NCKU) ini, kini tengah menjalani tahun keempatnya berpuasa jauh dari hangatnya suasana keluarga di Lombok.
Sejak menginjakkan kaki di Taiwan pada September 2022, Dewi merasakan dinamika spiritual yang kontras.
Jika di Mataram atau wilayah Lombok lainnya telinga akan dimanjakan dengan suara selawat dan tabuhan beduk sahur dari pengeras suara masjid, di Tainan, sunyi adalah kawan setianya saat menyantap sahur.
"Di sini tidak ada suara membangunkan sahur dari masjid seperti di rumah (Lombok). Semuanya harus mandiri," tuturnya saat berbagi kisah perjalanannya.
Meski durasi berpuasa tidak terpaut jauh dengan waktu di Indonesia, tantangan sesungguhnya adalah beradaptasi dengan lingkungan yang mayoritas non-muslim.
Namun, Dewi justru menemukan kehangatan toleransi yang luar biasa di kampus tempatnya menimba ilmu.
Dosen pembimbing dan rekan-rekan kampusnya menunjukkan rasa hormat yang tinggi.
Awalnya, mereka kerap bertanya dengan penuh rasa ingin tahu tentang esensi puasa.
"Dosen saya sangat suportif. Mereka sering bertanya apakah saya tidak lapar? Saya jelaskan bahwa ini sudah biasa, dan saya tetap menunjukkan bahwa puasa tidak menghalangi produktivitas," jelasnya.
Urusan ibadah pun bukan menjadi penghalang berarti bagi Dewi. Kuncinya adalah komunikasi yang jujur.
Ia tak segan meminta izin untuk menunaikan salat lima waktu di tengah jadwal kuliah yang padat. Baginya, meminta izin salat sudah dianggap sewajar izin ke toilet oleh rekan-rekannya di sana.
"Kalau waktunya mepet, misalnya saat presentasi bertepatan dengan Maghrib, saya siasati dengan wudhu lebih awal. Begitu ada jeda, langsung salat," tambahnya.
Meski fasilitas musala di tempat umum masih terbatas, Dewi selalu membekali diri dengan sajadah portabel.
Ia pernah bersujud di taman hingga lapangan terbuka. Alih-alih mendapat penolakan, keberaniannya menjalankan identitas sebagai muslimah justru berbuah manis.
Pihak departemen tempatnya belajar, melihat kegigihan Dewi dan rekan-rekan muslim lainnya dalam beribadah, akhirnya memutuskan untuk menyediakan prayer room (ruang salat) khusus.
Sebuah langkah nyata yang menunjukkan betapa tingginya apresiasi keberagaman di lingkungan akademis Taiwan.
Empat tahun sudah Dewi menanam rindu pada aroma masakan rumah dan gema takbir di tanah kelahiran.
Namun, di Tainan, ia membuktikan bahwa iman tak mengenal batas geografis, dan ketulusan dalam beragama justru mampu membuka pintu toleransi yang lebih lebar di negeri orang. (NURUL HIDAYATI – Kota Mataram)
Editor : Kimda Farida