Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jadi “Identitas” Ramadan, Pemerintah Didorong Perluas Ruang Publik

L
Penulis: Lombok Post Online❯

TRADISI TAHUNAN: Tampak pinggir Jalan Majapahit, Kota Mataram dipenuhi para pedagang takjil. Bahkan sampai memakan bahu jalan.
TRADISI TAHUNAN: Tampak pinggir Jalan Majapahit, Kota Mataram dipenuhi para pedagang takjil. Bahkan sampai memakan bahu jalan.


Advertisement

LombokPost - Aktivitas berburu takjil di Lombok bukan lagi sekadar tradisi musiman, tetapi telah menjadi tren nasional yang memberi dampak sosial dan ekonomi signifikan.

Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram (Unram) Prof. Dr. Nuriadi S.S., M.Hum menilai berburu takjil di Lombok merupakan hal yang wajar dan berkembang secara alami di tengah masyarakat.

“Fenomena ini sudah lama menjadi tren, tidak hanya di Lombok. Di Bandung, Jawa Barat bahkan dikenal istilah ngabuburit yang ujungnya juga berburu takjil di ruang publik,” ujarnya.

Advertisement

Menurut Prof Nuriadi, fenomena berburu takjil di Lombok perlu disikapi positif oleh pemerintah daerah. Ia mendorong agar akses ruang publik diperluas dan ditata dengan baik, sehingga aktivitas berburu takjil di Lombok tetap tertib, aman, dan produktif, bahkan setelah Ramadan berakhir.

Di wilayah perkotaan seperti Mataram, suasana berburu takjil menghadirkan atmosfer khas yang membedakan bulan puasa dengan bulan lainnya.

Lapak-lapak takjil yang berjejer di tepi jalan raya tak hanya menghadirkan pilihan menu berbuka, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, tempat bertemunya komunitas, hingga ajang lahirnya tren kuliner baru.

Advertisement

Transformasi Sosial dan Ekonomi

Fenomena berburu takjil di Lombok juga membawa dampak ekonomi yang nyata. Pelaku UMKM memanfaatkan momentum Ramadan untuk membuka usaha musiman. Perputaran ekonomi dari berburu takjil di Lombok secara langsung meningkatkan pendapatan masyarakat. UMKM bergerak, lapangan usaha terbuka, dan daya beli masyarakat ikut terdorong.

Inilah yang membuat fenomena berburu takjil di Lombok tidak hanya menjadi tradisi Ramadan, tetapi juga bagian dari transformasi sosial dan ekonomi berbasis kerakyatan.

Karena itu, berburu takjil di Lombok patut dipandang sebagai energi positif. Selain memperkuat identitas Ramadan, fenomena ini membuktikan bahwa tradisi lokal mampu beradaptasi menjadi kekuatan ekonomi yang relevan dari tahun ke tahun.

Dari sisi agama, TGH Supardi Yusuf Reme menilai tradisi ini pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika sosial yang wajar. Selama tidak melanggar nilai-nilai syariat, aktivitas tersebut justru bisa menjadi ladang kebaikan.

“Dalam Islam, jual beli itu halal dan bahkan dianjurkan selama dilakukan dengan jujur dan tidak merugikan. Berburu takjil itu sah-sah saja. Yang penting tidak berlebihan dan tetap menjaga niat,” ujarnya

Menurutnya, Ramadan memang bulan menahan diri. Namun, menahan diri bukan berarti meniadakan kegembiraan. Justru, momentum berbuka puasa menjadi saat yang ditunggu-tunggu setelah seharian beribadah.

“Yang perlu dijaga adalah jangan sampai berubah menjadi ajang konsumtif. Membeli secukupnya, tidak mubazir, dan tetap sederhana. Itu yang diajarkan agama,” tegasnya.

Di sisi lain, ia melihat fenomena ini membawa dampak sosial yang positif. Lapak-lapak takjil menjadi ruang interaksi lintas kalangan. Warga yang jarang bertemu bisa saling menyapa. Anak-anak muda hingga orang tua bercampur dalam suasana yang cair.

“Ini ruang silaturahmi. Di tengah kehidupan yang makin individualistis, Ramadan justru menghadirkan kembali kebersamaan. Itu nilai sosial yang sangat baik,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Darul Atqia Lombok Tengah ini.

Di lain sisi, Reme berharap, pemerintah dapat menata kawasan penjualan takjil dengan baik agar tetap tertib, bersih, dan memberi rasa aman bagi masyarakat. Dengan begitu, tradisi berburu takjil bisa terus hidup sebagai perpaduan nilai ibadah, penguatan ekonomi rakyat, dan perekat sosial.

“Ramadan harus tetap menjadi momentum memperbaiki diri. Kalau tradisi ini dijalani dengan niat baik, sederhana, dan saling menghargai, maka insyaallah membawa keberkahan bagi semua,” pungkasnya. (jay/ewi/r3)

Advertisement
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tradisi Ngangsor Gegadang, Cara Masyarakat Tetebatu Menyambut Musim Tanam

Tradisi Ngangsor Gegadang, Cara Masyarakat Tetebatu Menyambut Musim Tanam

Ngangsor Gegadang. Ini tradisi yang digelar menjelang musim tanam padi. Bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menyimpan nilai kebersamaan.

Buku Beda Iman Satu Tradisi, Angkat Harmoni Muslim-Hindu di Lombok

Buku Beda Iman Satu Tradisi, Angkat Harmoni Muslim-Hindu di Lombok

UIN Mataram meluncurkan buku karya Suparman Jayadi tentang harmoni Muslim-Hindu melalui tradisi dan kehidupan bersama di Lingsar.

Betabeq Menjelang MotoGP Mandalika 2026, Tradisi Sasak Membawa Doa, Restu, dan Kebersamaan

Betabeq Menjelang MotoGP Mandalika 2026, Tradisi Sasak Membawa Doa, Restu, dan Kebersamaan

Tradisi Betabeq di KEK Mandalika digelar sebagai bentuk permohonan izin, restu, dan doa keselamatan warga Sasak menjelang MotoGP 2026

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer