Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Butuh Tambahan Rp 100 M Selamatkan PPPK Lobar dari PHK

H
Penulis: Hamdani Wathoni❯
HARUS KERJA KERAS: Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini (kiri) dan Ketua DPRD Lombok Barat Lalu Ivan Indaryadi.
HARUS KERJA KERAS: Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini (kiri) dan Ketua DPRD Lombok Barat Lalu Ivan Indaryadi. (Toni/Lombok Post)

Advertisement

​LombokPost – Kebijakan otonomi daerah kini tengah berada di persimpangan jalan. Bupati Lombok Barat (Lobar) Lalu Ahmad Zaini, mengungkapkan pandangannya mengenai dinamika hubungan pusat dan daerah yang dinilai masih menyisakan ketergantungan fiskal yang cukup tinggi.

 Meski otonomi memberikan ruang gerak bagi daerah, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemandirian finansial sepenuhnya masih menjadi tantangan besar.

​"Kita bicara filosofi otonomi daerah. Di satu sisi kita ingin mandiri, namun di sisi lain kita masih sangat bergantung pada pusat. Ini kondisi yang dilematis," ujar Bupati LAZ saat ditemui usai menggelar rapat paripurna dengan DPRD Lobar, Senin (27/4).

Advertisement

​Menurutnya, ketergantungan terhadap dana transfer pusat menjadi faktor krusial dalam keberlangsungan pembangunan di daerah. Apalagi, Kabupaten Lombok Barat saat ini tengah dihadapkan pada keterbatasan kemampuan fiskal.

Kondisi ini membuat pemerintah daerah harus ekstra selektif dan efisien dalam mengelola anggaran yang ada agar tetap tepat sasaran dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

​Salah satu fokus utama yang disoroti adalah belanja infrastruktur. Meski capaian indeks infrastruktur di Lombok Barat menunjukkan progres positif, bupati yang akrab disapa Miq Zaini ini mengakui bahwa angkanya belum menyentuh angka ideal 40 persen.

"Fiskal kita kelola sebaik mungkin. Belanja infrastruktur akan terus kita gencarkan selama kemampuan keuangan daerah memungkinkan," imbuhnya.

​Tantangan nyata akan dihadapi pada tahun depan. LAZ memaparkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan belanja pegawai saja, pemerintah daerah masih membutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp 100 miliar agar bisa mencapai rasio yang ideal 30 persen.

Kondisi ini akan semakin berat jika dana transfer dari pemerintah pusat justru mengalami pengurangan.

​Persoalan lain yang membayangi adalah nasib tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Dia menyebut ada dua pilihan pahit yang mungkin diambil jika kondisi fiskal tidak membaik. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan atau terpaksa melakukan efisiensi tenaga kerja.

Advertisement
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

IGI Lotim Gelar Musdalub, Siap Perjuangkan Hak dan Kesejahteraan Guru

IGI Lotim Gelar Musdalub, Siap Perjuangkan Hak dan Kesejahteraan Guru

Ikatan Guru Indonesia (IGI) Lombok Timur (Lotim) terus berupaya memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan para guru di Lotim,

Pegawai Pensiun Pemprov NTB Terus Bertambah di Tengah Ketidakpastian Rekrutmen CPNS

Pegawai Pensiun Pemprov NTB Terus Bertambah di Tengah Ketidakpastian Rekrutmen CPNS

Pemprov NTB menunggu kepastian formasi CPNS dari pusat, sementara lebih dari 500 PNS diperkirakan pensiun pada 2027.

Pemkab Lotim Berpeluang Hemat Rp 250 Miliar, Jika Gaji PPPK Ditanggung Pemerintah Pusat

Pemkab Lotim Berpeluang Hemat Rp 250 Miliar, Jika Gaji PPPK Ditanggung Pemerintah Pusat

Bupati Lombok Timur Haerul Warisin memperjuangkan agar gaji PPPK penuh waktu dan paro waktu ditanggung pemerintah pusat. Jika terealisasi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer