Sinergi SPPG Karang Bongkot dan PIC Sekolah, Kunci Sukses Program MBG di Lombok Barat

Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karang Bongkot, Lombok Barat, dalam memastikan efektivitas distribusi pangan bagi ribuan pelajar.
Di bawah naungan Yayasan Batu Emas, SPPG Karang Bongkot membangun model kerja kolaboratif bersama para Person in Charge (PIC) di setiap sekolah penerima manfaat. Langkah taktis ini terbukti sukses menekan angka sisa makanan (food waste) hingga menyentuh angka nol persen.
Peran PIC sekolah diposisikan sebagai garda terdepan sekaligus jembatan komunikasi antara siswa dan dapur produksi.
Melalui koordinasi harian yang dinamis, PIC memantau langsung respons siswa terhadap menu yang disajikan, mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMPN 2 Labuapi, hingga tingkat SMA.
Data serta masukan dari lapangan terkait selera, variasi cita rasa, hingga penyesuaian porsi antarkelompok umur menjadi bahan evaluasi krusial bagi tim koki.
Baca Juga: Dana Dapur MBG Tak Cair, BGN Sebut Masalah Laporan Keuangan dan Data Penerima
"Dapur kami berfokus pada standar kebersihan, kesegaran bahan baku, dan ketepatan waktu distribusi. Namun, kuncinya ada pada koordinasi dengan PIC sekolah. Merekalah yang memahami selera dan kendala di lapangan," ujar Pemilik Yayasan Batu Emas, Muhazam, S.P.
Berkat umpan balik yang cepat dan terukur ini, omprengan berbahan stainless steel dilaporkan selalu kembali ke dapur dalam kondisi bersih setiap harinya, menandakan bahwa menu yang disajikan benar-benar diterima dengan baik oleh para siswa.
Saat ini, SPPG Karang Bongkot melayani 2.000 penerima manfaat setiap hari yang tersebar di 22 institusi pendidikan. Wilayah pelayanannya mencakup empat desa strategis di Lombok Barat, yakni Desa Karang Bongkot, Desa Perampuan Kuranji, Desa Kuranji Dalang, dan Desa Telaga Waru
Selain pengelolaan menu, tugas PIC sekolah juga meliputi pengawasan langsung saat pembagian makanan, menjaga sanitasi tempat makan siswa, serta memastikan alur distribusi armada SPPG berjalan lancar tanpa mengganggu kegiatan belajar-mengajar.
Di sisi lain, dapur produksi menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) higienitas yang sangat ketat. Seluruh staf diwajibkan mengenakan atribut pelengkap steril seperti penutup kepala, masker, apron, hingga sarung tangan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




