LombokPost - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi peningkatan gizi siswa, justru dikeluhkan warga dan sekolah penerima. Menyusul temuan mengejutkan di MIN 2 Lombok Barat, Desa Sesela, sejumlah paket roti yang dibagikan kepada siswa ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi dan berjamur.
"Kami menerima laporan dari masyarakat yang anaknya mendapatkan roti MBG dengan kondisi yang sangat tidak enak dilihat dan didengar bahasanya (karena kualitas buruk). Ini sangat mengkhawatirkan," ujar Kepala Desa Sesela M Taufik saat dikonfirmasi, Selasa (10/3).
Dia mengungkapkan bahwa informasi ini pertama kali mencuat melalui keresahan orang tua siswa di media sosial dan pesan singkat WhatsApp. Menyikapi temuan tersebut, Taufik bergerak cepat melakukan koordinasi dengan pihak sekolah.
Kades mengaku tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap kesehatan anak-anak di wilayahnya. Kekhawatiran akan terjadinya keracunan massal atau gangguan pencernaan menjadi alasan utama dirinya menginstruksikan penarikan seluruh paket roti yang telah dibagikan.
"Instruksi saya jelas, segera kondisikan dan kembalikan roti tersebut. Kita tidak ingin ada anak-anak kita yang sakit perut atau bahkan keracunan karena mengonsumsi makanan yang sudah rusak," tegasnya.
Taufik makin merasa kesal setelah membuktikan sendiri kalau roti tersebut memang berjamur. "Karena kebetulan anak saya sekolah di MIN 2 Lombok Barat. Saya cek benar jamuran. Makanya saya minta dibuang," imbuhnya.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kepala MIN 2 Lombok Barat, diketahui bahwa pihak supplier (pemasok) telah mendatangi sekolah untuk memberikan klarifikasi. Pihak pemasok dikabarkan siap mengganti sekitar 900 paket roti yang ditemukan rusak tersebut.
Meski ada itikad ganti rugi, Taufik menyoroti lemahnya koordinasi antara pengelola dapur MBG dengan pemerintah desa setempat. Hingga saat ini, ia menyebut pihak dapur MBG yang bertanggung jawab belum pernah melakukan koordinasi atau sekadar bersilaturahmi ke kantor desa.
Menurutnya, komunikasi itu krusial bukan untuk menghambat bisnis, melainkan untuk fungsi pengawasan dan perbaikan kualitas. Ia menekankan bahwa Program Presiden ini sangat luar biasa dan bertujuan baik, namun pelaksanaannya di lapangan jangan sampai hanya mengejar keuntungan semata.
"Dalam bisnis wajar mencari untung, tapi jangan sampai dimonopoli tanpa memperhatikan kualitas. Marilah kita sama-sama berpikir untuk kesehatan putra-putri kita. Kami harap kedepannya ada evaluasi total agar menu yang disajikan benar-benar yang terbaik bagi masyarakat," bebernya.
Pihak MIN 2 Lombok Barat melalui kepala sekolah membenarkan adanya info roti berjamur yang diterima sekolahnya Senin (9/3). "Betul (jamuran). Pihak dapur juga datang sudah minta maaf dan siap mengganti seluruhnya," aku kepala sekolah yang meminta tak ditulis namanya.
Pihak dapur MBG mengaku akan mengganti saat pembagian berikutnya. Kebetulan di sekolahnya, MBG dibagikan tiap tiga hari. Sehingga saat pembagian itulah nanti diganti.
"Sudah saya tanya apakah tidak bisa dibagikan setiap hari. Cuma katanya kesepakatan koordinator kecatan itu sudah disepakati," akunya. Rencanya, pihak sekolah juga hari ini akan mendatangi pihak SPPG berkoordinasi menindaklanjuti persoalan ini.
Pihak SPPG yang coba dikonfirmasi Lombok Post melalui Korwil BGN Lombok Barat Gusti Ayu Kade Diastini menyampaikan pihaknya sudah menerima laporan tersebut. "Kami sudah stop operasionalnya. Sudah disampaikan kemarin mulai hari Selasa (10/3) sudah stop operasional sementara sambil berbenah," jelasnya.
Editor : Marthadi