LombokPost - Meski era game kian dipenuhi pilihan baru di gawai dan komputer, PlayStation tetap bertahan sebagai salah satu hiburan favorit lintas generasi.
Menurut pandangan psikolog, konsol ini bukan sekadar permainan, melainkan ruang untuk melepas stres, membangun interaksi sosial, hingga menjadi bagian dari identitas diri penggunanya.
Permainan PlayStation masih tetap eksis meski banyak game modern bermunculan. Tidak hanya digemari anak-anak, PlayStation juga diminati kalangan dewasa, bahkan pekerja dan pejabat.
Psikolog Universitas Mataram (Unram) Zamroni Alfian menilai PlayStation kini berbeda sesuai klaster.
Bagi anak SMA, bermain PlayStation biasanya murni sebagai hobi. Bahkan tak jarang ada yang rela bolos sekolah demi nongkrong di rental PlayStation.
Namun bagi kalangan pekerja, bermain PlayStation bukan lagi sebatas hobi, melainkan menjadi ajang silaturahmi.
“Saya sendiri juga main PS (PlayStation), tapi bukan lagi soal hobi. Ini lebih ke ajang kumpul dengan teman-teman. Saya yakin banyak pejabat juga sama, main PS hanya untuk silaturahmi,” ujarnya.
Biasanya, pekerja memainkan PlayStation pada akhir pekan atau sebulan sekali, sekaligus diiringi kegiatan lain seperti ngopi atau menonton bioskop.
Sementara itu, daya tarik PlayStation tetap kuat karena konsol ini terus berkembang, seperti kehadiran PlayStation 6 (PS6) dengan fitur-fitur modern yang memanjakan pemain.
“Permainan PlayStation tidak lekang oleh waktu. Selain fiturnya makin canggih, harganya juga masih terjangkau sehingga bisa dinikmati semua kalangan,” tambah Zamroni.
Ia menyimpulkan, bermain PlayStation kini lebih banyak dimaknai sebagai sarana berkumpul.
“Kalau bagi pekerja, bermain PS adalah ajang silaturahmi. Tidak mungkin mereka main tiap hari, biasanya kalau ada waktu luang saja,” pungkasnya. (jay/r3)
Editor : Kimda Farida