LombokPost - Suara anak-anak melafalkan kosakata bahasa Inggris bersahut-sahutan dari sebuah lorong.
Menepis keterbatasan yang melingkupi sebuah kampung kecil di sudut kota ini.
SEBUAH gang sempit di Lingkungan Karang Tatah, Monjok Timur, terdengar riuh. Suara anak-anak bersahutan melafalkan kosakata bahasa Inggris.
Baca Juga: Ruang Belajar SMAN 1 Wanasaba Ambruk Diterjang Hujan dan Angin Kencang
“Red, blue, green!” teriak mereka serempak, disusul tawa renyah memenuhi udara sore.
Di antara keterbatasan fasilitas dan penghasilan warga yang pas-pasan, berdirilah Ruang Pintar Al Ikhlas. Sebuah inisiatif sederhana yang lahir dari keresahan seorang lurah dan semangat sekelompok pemuda.
Bagi Lurah Monjok Timur Sumanto, keberadaan ruang ini bukan sekadar tambahan aktivitas. Ia menyebutnya sebagai “penjaga harapan” di tengah kondisi sosial yang rawan.
Baca Juga: Ruang Belajar MTs Putra Ponpes Nurul Hakim Kediri Terbakar, Ini Penyebabnya
Mayoritas warga Karang Tatah bekerja sebagai buruh bangunan dan asisten rumah tangga. Penghasilan harian hanya cukup untuk kebutuhan pokok, sementara pendidikan anak kerap luput dari perhatian.
“Banyak orang tua lebih sibuk mencari nafkah,” ungkapnya.
Sementara, anak-anak dibiarkan larut dengan gawai tanpa pendampingan belajar. Penuturan ini dibahasakan dengan gestur tubuh, menggambarkan keresahan itu datang dari hatinya.
Baca Juga: ITB Beri Pelatihan Kesadaran Ruang Belajar Guru dan Siswa di SD Filial KLU
Tempatnya jauh dari kesan mewah. Hanya ruangan sederhana dengan kursi plastik, papan tulis, dan beberapa rak buku sumbangan.
Namun, di situlah puluhan anak setiap sore berkumpul, menyalin huruf demi huruf, menghafal doa, hingga mengaji bersama. Para pengajar sebagian besar pemuda Karang Tatah, mahasiswa, dan guru muda yang rela meluangkan waktu.
Mereka mengajar tanpa bayaran, hanya berbekal semangat untuk “mengubah arah” generasi di lingkungannya. Pelajaran yang diberikan pun berlapis.
Selain matematika, bahasa, dan literasi dasar, anak-anak dibimbing memahami ilmu agama: mulai dari fiqih, doa-doa harian, hingga cara membaca Alquran.
“Kami ingin mereka cerdas secara akademik, tapi juga punya adab,” ujar Sumanto.
Hasilnya mulai terlihat. Anak-anak yang sebelumnya menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel, kini mulai terbiasa duduk belajar bersama.
Mereka bisa menyebut nama warna dan buah-buahan dalam bahasa Inggris, hingga berani berbicara di depan kelas. “Sekarang mereka lebih disiplin,” ungkapnya.
Saat jam belajar tiba, ada yang rela meninggalkan permainan. “Demi datang ke Ruang Pintar,” terangnya.
Bagi para orang tua, kehadiran ruang belajar ini juga meringankan beban. Ada tempat yang bisa dipercaya untuk menitipkan anak-anak agar tetap berada di lingkungan positif, bukan hanya berkeliaran di jalan atau hanyut di dunia maya.
Lebih dari sekadar belajar akademik, Ruang Pintar Karang Tatah dirancang sebagai wadah pembentukan karakter. Anak-anak diajarkan sopan santun, cara menyapa orang yang lebih tua, hingga bagaimana menjaga kebersihan lingkungan.
Nilai-nilai sederhana ini perlahan menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus menanamkan adab sejak dini. “Harapan kami, anak-anak di Karang Tatah bisa tumbuh jadi generasi yang lebih baik, tidak hanya pintar, tapi juga berakhlak,” tegas Sumanto.
Inisiatif ini menjadi bukti, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Gotong royong antara lurah, pemuda, dan masyarakat menjadikan ruang sederhana di Karang Tatah sebagai oase pendidikan.
Di tengah arus digitalisasi yang kerap membuat anak-anak tersesat, Ruang Pintar Al Ikhlas menjadi mercusuar kecil yang menjaga cahaya masa depan tetap menyala. “Kalau tidak kita yang peduli pada anak-anak di sini, siapa lagi?” pungkasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r9)
Editor : Pujo Nugroho