LombokPost — Pantai Tanjung Karang pernah menjadi ikon utama pariwisata Kota Mataram sebelum munculnya berbagai destinasi pantai lain. Popularitas pantai ini paling menonjol pada era sebelum tahun 2015, saat Tanjung Karang menjadi pantai tujuan warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah.
Kepala Lingkungan Tanjung Karang Bangsal, Munajam menyebut, di masa itu kawasan pantai ini hampir tak pernah sepi pengunjung, terutama pada momen akhir pekan dan menjelang hari besar keagamaan.
“Saat itu, Tanjujg Karang sangat populer. Bahkan bisa dibilang satu-satunya pantai tujuan warga Kota Mataram saat itu,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Ia menjelaskan, popularitas Pantai Tanjung Karang juga tidak terlepas dari tradisi ziarah ke kawasan pemakaman Bintaro atau Loang Baloq. Seusai berziarah, warga kerap melanjutkan kegiatan bersama keluarga di Pantai Tanjung Karang.
“Setelah ziarah (ke makam Loang Baloq), biasanya keluarga langsung ke pantai. Mandi, makan bersama, healing istilahnya sekarang. Itu sudah jadi tradisi,” katanya.
Pada masa itu, kondisi pantai dinilai masih sangat alami. Jarak antara bibir pantai dengan daratan cukup luas, bahkan mencapai sekitar 100 meter, sehingga memberikan ruang nyaman bagi pengunjung.
“Dulu hamparan pantainya luas. Anak-anak bisa mandi, keluarga bisa duduk santai. Itulah keindahan dan daya tariknya,” ungkapnya.
Puncak kejayaan Pantai Tanjung Karang juga terjadi ketika almarhum HM Ruslan menjabat sebagai Wali Kota Mataram. Berbagai agenda pemerintahan dan hiburan rutin digelar di kawasan tersebut.
“Zaman Pak Haji Ruslan, hampir semua acara besar digelar di sini. Ada hiburan, orkes, bahkan menjelang Idulfitri jalannya macet total karena pengunjung membludak,” kenangnya.
Namun, seiring berkembangnya destinasi pantai lain seperti Loang Baloq, Pantai Boom, hingga kawasan wisata baru di pesisir Mataram, pamor Tanjung Karang perlahan memudar. Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya jumlah perahu nelayan yang parkir di bibir pantai.
“Sekarang tantangannya beda. Banyak perahu parkir, jadi orang yang mau mandi laut atau datang dengan anak cucu merasa kurang nyaman,” katanya.
Menurutnya, keberadaan ratusan perahu yang parkir di sepanjang pantai tidak semuanya milik nelayan setempat. Sebagian besar merupakan nelayan musiman dari luar wilayah Tanjung Karang.
“Nelayan asli di sini sebenarnya sudah berkurang. Sekarang banyak perahu dari luar yang singgah dan parkir lama. Jumlahnya bisa lebih dari 60 unit, bahkan ratusan,” ujarnya.
Kondisi ini membuat ruang publik pantai semakin sempit dan mengurangi kenyamanan pengunjung. Warga pun berharap pemerintah daerah kembali memberi perhatian serius terhadap Pantai Tanjung Karang, sebagaimana pantai-pantai lain yang rutin direvitalisasi.
“Kalau kita lihat pantai lain seperti Loang Baloq atau Pantai Boom, hampir tiap tahun direvitalisasi. Tanjung Karang ini seolah terlupakan,” keluhnya.
Meski demikian, warga tetap menyimpan harapan besar agar Pantai Tanjung Karang bisa kembali berjaya seperti dulu. Salah satunya melalui pembangunan jeti atau penahan gelombang di sisi utara dan selatan pantai untuk mengurangi abrasi dan menata parkir perahu.
“Kami dengar ada rencana jeti. Mudah-mudahan segera terealisasi. Kalau jeti jadi, pantai ini bisa aman dari abrasi dan lebih nyaman,” katanya.
Ia menegaskan, kerinduan warga bukan sekadar nostalgia, tetapi harapan agar Pantai Tanjung Karang kembali menjadi ruang publik yang layak, aman, dan membanggakan sebagai ikon pariwisata Kota Mataram.
“Bukan soal kalah atau menang wilayah ini, tapi soal pariwisata dan sejarah kota. Tanjung Karang ini bagian dari identitas Mataram,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin