LombokPost - Perjalanan Yuliatin dari Kediri menuju Masjid Jalan Cahaya dalam menjemput hidayah sekaligus memulihkan diri dari duka mendalam pasca kepergian sang suami.
Kehadiran program pembinaan ini tidak hanya memberikan akses pembelajaran Alquran bagi dirinya dan sang buah hati.
Tetapi juga menjadi wadah emosional yang mengubah kesedihan menjadi semangat baru.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Jarak puluhan kilometer antara Kediri dan Masjid Jalan Cahaya yang berada di Mapak, Kecamatan Sekarbela tak pernah menjadi beban bagi Yuliatin Nurmayanti (40).
Bagi ibu dari Muhammad Reynan Amzar ini, setiap putaran roda motornya adalah jalan menuju kesembuhan hati.
Sudah satu setengah tahun ia setia ikut menghadiri program pengasuhan dan pembelajaran Alquran yang telah mengubah drastis ritme hidupnya.
Mengenang awal mula bergabung, Yuliatin menceritakan bagaimana para relawan turun langsung ke kampung-kampung untuk mendata warga yang membutuhkan. Ia teringat waktu awal yang penuh perjuangan saat kegiatan belum menetap di lokasi sekarang.
“Dulu kami mulainya di jalanan BTN, daerah Perampuan, Labu Api. Ngajinya di pelataran, hanya beralaskan terpal di bawah terik matahari dan sesekali diganggu monyet dari Gunung Pengsong,” kenangnya, (7/3).
Kondisi serba terbatas kala itu justru menempa kedekatannya dengan para pengurus dan santri. Di tengah ketakutan barang bawaannya dibawa lari monyet ke hutan, Yuliatin menemukan ketenangan pada kesabaran para santri yang membimbingnya.
“Para santri di sini punya kesabaran yang luar biasa menghadapi kami yang sudah berusia. Mereka mengayomi dengan cara yang sangat menyentuh hati,”ungkapnya.
Bagi Yuliatin, program ini lebih dari sekadar tempat belajar tajwid atau hafalan doa. Ini adalah tempatnya pulang setelah duka menghantam hidupnya tiga tahun silam. Kehilangan suami tercinta sempat membuatnya terpuruk dalam kesedihan yang berlarut-larut. Setahun pertama pasca kepergian suaminya dihabiskan dengan duka, hingga akhirnya ia dipertemukan dengan komunitas di Masjid Jalan Cahaya.
“Awalnya saya hanya bersedih-sedih di rumah. Tapi pelan-pelan, di sini saya bisa kembali ceria. Bukan melupakan, tapi saya sadar tidak boleh berlarut-larut. Ada anak yang harus saya perjuangkan masa depannya agar tidak terbengkalai,” tuturnya yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit mandiri ini.
Pekerjaan sebagai asisten sekaligus bos bagi usahanya sendiri memberinya fleksibilitas waktu untuk tetap memprioritaskan pendidikan agama bagi sang anak.
Semangat itu nyatanya menular kuat pada putra laki-lakinya, Reynan. Murid kelas 3 MI Nurul Hakim itu seringkali jauh lebih bersemangat daripada ibunya. Yuliatin menceritakan sebuah momen saat mereka baru pulang dari sebuah acara di tempat lain. Meski sudah lelah, Reynan mengamuk di atas motor karena tidak ingin melewatkan salat Tarawih di Masjid Jalan Cahaya.
“Padahal jaraknya jauh, tapi dia menangis minta putar balik ke sini. Akhirnya kami shalat Tarawih di sini dan baru sampai rumah jam setengah sebelas malam. Dia sudah merasa sangat nyaman dengan orang-orang di sini,” ceritanya.
Rutinitas harian yang padat sekolah hingga sore hari bagi Reynan dan menjahit bagi Yuliatin selalu disisipkan waktu untuk datang ke masjid, terutama pada hari Jumat dan Sabtu setelah jam sekolah berakhir. Jarak yang dari Kediri ke Mataram pun seolah tertutup oleh kalimat motivasi dari salah satu ustazah yang selalu ia ingat.
“Jarak bukan berarti penghalang untuk mencari ilmu,” sembarinya.
Melalui program ini, Yuliatin merasa mendapatkan paket lengkap kehidupan, ilmu agama, komunitas yang menguatkan, hingga bimbingan untuk mendidik anak di tengah statusnya sebagai orang tua tunggal. Di Masjid Jalan Cahaya, ia tak lagi merasa sendiri. Ia menemukan cahaya yang membimbingnya keluar dari gelap kesedihan, menjadikannya pribadi yang lebih semangat.
Editor : Pujo Nugroho