Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harmoni Dua Hari Raya di Ibu Kota

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 18 Maret 2026 | 16:20 WIB

 

Kemeriahan malam takbiran saat menyambut Hari Raya Idulfitri tahun lalu.
Kemeriahan malam takbiran saat menyambut Hari Raya Idulfitri tahun lalu.

LombokPost – Pertemuan dua momentum keagamaan besar, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 dan Idulfitri 1447 Hijriah, dinilai menjadi gambaran kuatnya kehidupan masyarakat. Anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram Herman menyebut situasi ini menunjukkan wajah kota yang heterogen namun tetap mampu hidup berdampingan secara harmonis.

Patung Ogoh-Ogoh yng diarak dalam pawai, untuk menyambut Hari Raya Nyepi.
Patung Ogoh-Ogoh yng diarak dalam pawai, untuk menyambut Hari Raya Nyepi.

“Ini bukan sekadar soal pengaturan jadwal kegiatan. Ini menunjukkan karakter masyarakat yang sejak lama hidup dalam keberagaman,” kata Herman, Jumat (13/3).

Politisi Gerindra itu menilai pertemuan dua agenda besar keagamaan menjadi momentum menunjukkan perbedaan bukanlah sumber perpecahan. Melainkan kekayaan sosial yang selama ini dijaga masyarakat.

“Perbedaan selalu dipandang sebagai kekayaan, bukan sesuatu yang memperlebar jarak antar masyarakat,” ujar anggota komisi yang juga membidangi agama ini.

Menurutnya, sejarah sosial menunjukkan kehidupan antarumat beragama berjalan dengan penuh penghormatan. “Sejak dulu masyarakat di kota ini terbiasa hidup guyub. Perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk saling menjaga,” katanya.

Ia mencontohkan praktik toleransi itu sering terlihat dalam berbagai kegiatan keagamaan. “Ketika umat Hindu melaksanakan kegiatan, sering kita lihat Banser ikut membantu menjaga keamanan. Sebaliknya, saat kegiatan umat Islam berlangsung, pecalang juga hadir membantu,” jelasnya.

Menurut Herman, praktik-praktik seperti itu menunjukkan toleransi tidak berhenti pada slogan, tetapi hidup dalam keseharian masyarakat. “Kerukunan di kota ini terasa hangat karena masyarakat benar-benar menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia berharap momentum pertemuan Nyepi dan Idulfitri kali ini semakin memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat. “Ini kesempatan menunjukkan masyarakat Mataram mampu merawat kebersamaan di tengah perbedaan,” serunya.

Di sisi lain, pemkot memastikan seluruh rangkaian kegiatan keagamaan telah dipersiapkan secara matang agar berjalan tertib dan kondusif. “Kami sudah melakukan koordinasi lintas sektor agar seluruh kegiatan berjalan lancar,” kata Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang.

Menurutnya, koordinasi dilakukan bersama Polresta Mataram serta tokoh lintas agama. Memastikan dua agenda besar keagamaan dapat berlangsung aman.

“Pengaturan waktu menjadi perhatian utama kami,” ujarnya.

Sebanyak 105 ogoh-ogoh akan meramaikan parade budaya menyambut Nyepi yang dijadwalkan berlangsung 18 Maret 2026. “Parade akan mulai tepat pukul 12.00 WITA,” jelas Martawang.

Titik start dipusatkan di depan Kantor Lurah Cakra Barat dan iring-iringan akan menyusuri jalan protokol kawasan bisnis Cakranegara. Pemkot menargetkan seluruh rangkaian parade selesai sebelum menjelang waktu ibadah umat Muslim pada sore hari.

“Target kami seluruh kegiatan sudah selesai sebelum pukul 17.30 WITA,” katanya.

Pengaturan jadwal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang sedang bersiap menjalankan ibadah. “Ini penting agar saudara-saudara kita umat Muslim bisa bersiap melaksanakan ibadah di masjid maupun musala,” ujarnya.

Dalam parade tersebut, setiap banjar hanya diberikan waktu atraksi maksimal tiga menit di titik penilaian agar iring-iringan dapat bergerak cepat dan selesai sesuai jadwal. “Dengan durasi itu, seluruh rangkaian parade diperkirakan tuntas pada sore hari,” jelasnya.

Setelah parade ogoh-ogoh berakhir, rangkaian ritual umat Hindu akan dilanjutkan dengan tradisi Perang Api di Perempatan Negara Sakah, Cakranegara, sebelum umat Hindu melaksanakan ritual Mecaru dan memasuki masa Tapa Brata Penyepian. Martawang menilai pertemuan dua agenda keagamaan ini justru menjadi cerminan kehidupan masyarakat Mataram yang inklusif.

“Momentum ini menunjukkan kuatnya akar toleransi kita,” tegasnya.

Ia menegaskan pemerintah hadir untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan harmonis. “Umat Hindu bersiap menjalankan Nyepi, sementara umat Islam menyambut Idulfitri. Pemerintah memastikan semuanya berjalan tertib dan saling menghormati,” pungkasnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Idulfitri Mataram #Nyepi Mataram #Kerukunan Mataram #Toleransi antarumat #Ogoh ogoh Cakranegara