Keracunan MBG Tembus 6.425 Korban, Kepala BGN: Kasus Masih "Batas Wajar"

LombokPost – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi gelombang desakan untuk dihentikan sementara setelah jumlah siswa yang mengalami keracunan melonjak tajam.
Data terbaru menunjukkan total korban keracunan MBG telah menembus 6.425 orang sejak Januari.
Namun, Badan Gizi Nasional (BGN) menolak desakan tersebut.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa pemerintah tetap fokus mengejar target jumlah penerima manfaat.
Ia bahkan menyebut kasus keracunan yang terjadi masih dalam batas wajar.
"Kasus keracunan masih dalam batas wajar, yakni 4.711 porsi dari 1 miliar porsi yang sudah disajikan selama sembilan bulan berjalan," kata Dadan Hindayana.
Meskipun BGN berpegangan pada angka 4.711 porsi, data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan bahwa jumlah korban keracunan yang tercatat sejak Januari telah mencapai 6.425 orang, dengan lonjakan signifikan dalam dua bulan terakhir:
* Juli: 342 siswa keracunan.
* Agustus: Melonjak menjadi 2.226 siswa keracunan.
* September: Mencapai 3.145 siswa keracunan.
Desakan agar program MBG dihentikan sementara semakin menguat. Berbagai pihak, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), JPPI, dan Indonesia Corruption Watch (ICW), mendesak Presiden untuk segera menghentikan program MBG sebelum jatuh korban jiwa.
Mereka menilai keselamatan dan kesehatan anak harus diprioritaskan di atas sekadar mengejar target jumlah penerima.
Baca Juga: Tembus Rp 268 Triliun, Ini Rincian Alokasi Anggaran BGN 2026
BGN mengakui adanya dilema dalam pemenuhan sumber daya manusia dan keamanan program, namun tetap menolak menunda program.
Untuk mencegah kejadian serupa, BGN menjanjikan sejumlah perbaikan, meliputi:
* Membentuk Tim Investigasi khusus.
* Menghentikan Sementara operasional dapur-dapur yang bermasalah.
* Memperpendek Jangkauan Pengawasan dengan membuka kantor di setiap kabupaten/kota mulai tahun 2026.
Meskipun demikian, kritik publik tetap keras.
Banyak yang mempertanyakan bagaimana kasus keracunan yang menyebabkan ribuan anak jatuh sakit dapat dikategorikan sebagai "batas wajar," dan mengapa fokus pemerintah justru pada target jumlah porsi, bukan pada keamanan dan kualitas nutrisi yang diterima siswa.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




