Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

UMKM Beras Ogah Kirim Beras ke Ritel

C
Penulis: Chia❯

 


Advertisement

pedagang beras di pasar
pedagang beras di pasar

 

LombokPost - Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor pangan di Kota Mataram dilaporkan mengeluhkan lonjakan harga beras kepada Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram. Para pengusaha pengemasan beras lokal mendapati harga pasaran saat ini telah melambung jauh melampaui ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Sehingga mengancam kelangsungan operasional usaha mereka.

Advertisement

Kepala Bidang (Kabid) Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida, mengungkapkan pihaknya telah menerima banyak aduan dari para pelaku UMKM yang merasa tertekan. 

"UMKM kita terus mengeluh karena harga bahan baku tidak sesuai dengan HET,” kata Nida. 

Advertisement

Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar kelangkaan stok beras premium di pasaran ritel modern maupun tradisional, melainkan harga gabah kering yang sudah terlampau tinggi di tingkat petani.

Harga gabah kering saja di tingkat petani sudah berkisar antara Rp 7 ribu hingga Rp 8.000 per kilogram. Ia menjelaskan, ketika gabah tersebut diproses menjadi beras siap jual, biayanya melonjak hingga menyentuh angka Rp 16 ribuan per kilogram sebelum dikemas. Angka ini tentu sudah jauh melampaui HET beras premium yang berada di kisaran Rp 14.900 per kilogram. Akibat disparitas harga tersebut, para pelaku UMKM kesulitan memasarkan produk mereka ke ritel karena tidak masuk dalam skema margin keuntungan yang wajar.

“UMKM kita ingin tetap bekerja dan mendapat keuntungan, sementara pihak ritel juga harus menyesuaikan dengan HET agar tetap kompetitif. Ini dilema yang sedang kami cari jalan keluarnya,” tambahnya.

Sri menambahkan, sebagian besar ritel modern kini hanya menyerap beberapa merek beras tertentu saja yang mampu memenuhi margin operasional. Sementara itu, merek-merek lokal yang dikelola UMKM banyak yang terpental dari rak-rak toko karena terkendala biaya produksi yang membengkak.

“Dia tidak kosong, ada tapi berkurang. Yang biasanya ngiri 10 jadi ada 3 atau 4 merk yang ngirim,” jelasnya. 

Advertisement
Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Liputan
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Temukan Beras Tanpa Label Mutu, Bapanas dan Bulog NTB Berikan Catatan Khusus Hasil Sidak

Temukan Beras Tanpa Label Mutu, Bapanas dan Bulog NTB Berikan Catatan Khusus Hasil Sidak

Bapanas & Bulog NTB temukan beras tanpa label mutu saat sidak di Mataram, tegaskan stok aman hingga 27 bulan ke depan.

Polda NTB Tindak Tegas Pelaku Pengoplosan Beras, Stok Pangan Dipastikan Aman

Polda NTB Tindak Tegas Pelaku Pengoplosan Beras, Stok Pangan Dipastikan Aman

Pemerintah berupaya menekan laju inflasi dengan melaksanakan Gerakan Pangan Murah secara rutin. Langkah integratif diharapkan menjaga harga.

Harga Beras di Pasar dan Ritel NTB Masih Sesuai HET, Stok Mencukupi Hingga 27 Bulan ke Depan

Harga Beras di Pasar dan Ritel NTB Masih Sesuai HET, Stok Mencukupi Hingga 27 Bulan ke Depan

Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasa

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer