
LombokPost - panjang yang melanda wilayah Kota Mataram membawa dampak buruk bagi sektor perikanan darat. Puluhan kolam ikan air tawar milik warga dilaporkan mengalami kekeringan parah hingga memaksa para pembudidaya menghentikan sementara aktivitas produksi.
“Wah kering itu,” kata Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan (Diskan) Kota Mataram Leo Amri Saleh.
Leo mengungkapkan, jumlah kolam yang mengalami kekeringan terus bertambah secara signifikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Berdasarkan data Diskan, pada bulan September lalu tercatat ada sekitar enam kolam pembudidaya yang mengering. Sekarang, angka tersebut bertambah menjadi sekitar 12 kolam.
“Ya kan musim kemarau ini, jadi nambah terus ya,” jelasnya.
Dampak dari cuaca panas ini tidak hanya membuat dasar kolam terlihat retak-retak, tetapi juga memicu penurunan debit air secara drastis. Kondisi lingkungan yang tidak ideal tersebut membuat ikan-ikan peliharaan menjadi stres, mudah mati, hingga berpotensi menimbulkan ancaman gagal panen yang besar bagi para peternak lokal.
Menurunnya pasokan air bersih ini otomatis memukul angka produksi secara keseluruhan. Jika dalam kondisi normal para petani biasanya mampu menghasilkan panen ikan berkisar antara dua hingga tiga ton, kini jumlahnya merosot tajam menjadi sekitar 1,2 ton atau bahkan lebih rendah lagi. Ironinya, situasi ini turut memicu kenaikan harga jual di pasaran akibat terbatasnya ketersediaan stok. Tercatat, harga jual ikan air tawar jenis nila di pasaran saat ini mengalami kenaikan dari yang semula Rp 32.000 per kilogram menjadi Rp 33.000 per kilogram.
"Situasi itu tentu sangat tidak menarik bagi pembudidaya, tetapi situasinya memang dilematis," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi untuk menekan potensi kerugian yang lebih besar, pihak Diskan memberikan rekomendasi taktis bagi para pembudidaya. Petani yang mengalami krisis pasokan air disarankan untuk segera melakukan panen atau penjualan dini. Ikan yang sebenarnya belum memasuki usia panen normal, yang biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan terpaksa harus dipanen lebih awal pada usia sekitar dua bulan. Langkah ini dinilai jauh lebih bijak untuk menghindari risiko kematian massal di dalam kolam.
Berdasarkan pemetaan Diskan, wilayah yang paling parah terdampak dan didominasi oleh kelompok pembudidaya non-produktif terletak di kawasan hilir. Wilayah tersebut meliputi kawasan Rembiga, Ampenan, hingga Sekarbela. Sebaliknya, untuk wilayah yang berada di area hulu seperti Lendang Re, Bertais, dan Mandalika, pasokan air dinilai masih relatif aman serta berada dalam ambang batas toleransi untuk budidaya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




