Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tutup TPS, Kebijakan DLH Kota Mataram Dianggap Bukan Solusi

Baiq Farida • Rabu, 17 Februari 2021 | 12:45 WIB
BERBURU KEBUTUHAN: Seorang wanita mendorong kereta bayi di Lombok Epicentrum Mall, pusat perbelanjaan terbesar di Kota Mataram, Rabu (9/1). Pertumbuhan ekonomi di daerah ini membuat LEM selalu ramai didatangi konsumen.
BERBURU KEBUTUHAN: Seorang wanita mendorong kereta bayi di Lombok Epicentrum Mall, pusat perbelanjaan terbesar di Kota Mataram, Rabu (9/1). Pertumbuhan ekonomi di daerah ini membuat LEM selalu ramai didatangi konsumen.
MATARAM—Asisten II Setda Kota Mataram H Mahmuddin Tura menilai penutupan sejumlah tempat pembuangan sampah sementara (TPS) bakal memunculkan masalah baru. Kebijakan yang diambil Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram itu dinilai justru akan mengundang munculnya TPS liar.

“Persoalan sampah di Kota Mataram tidak pernah separah sekarang ini. Banyak sekali sampah yang tidak terangkut,” kata Asisten II Setda Kota Mataram H Mahmuddin Tura pada Lombok Post, Selasa (16/2/2021).

Dulu, kata dia, persoalan sampah ada di kendaraan operasional yang terbatas. Jumlah armada pengangkut hanya 20 unit. Hal ini membuat petugas kewalahan mengangkut sampah ke TPA Kebon Kongok.

Namun kini armada pengangkut sampah sudah 51 unit. “Kalau tidak salah yang masih sehat (bagus) ada 49 unit,” tutur mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Mataram ini.

Karena itu, untuk menangani permasalahan sampah di Kota Mataram, butuh SDM yang mumpuni. Tidak hanya pintar. "Kita butuh orang cerdas," cetusnya.

Menurut Tura, DLH perlu inovasi. Baik dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun fasilitas.

Karena sejauh ini, DLH sendiri sudah menelusuri terkait banyaknya volume sampah di TPS Karang Baru yang ditutup. Dari hasil penelusurannya, banyak orang luar membuang sampah menggunakan kendaraan roda empat. “Kadang pakai mobil pikap bawa sampah,” tutur dia.

Dikatakan, menangani persoalan sampah tidak hanya dengan sistem angkut buang. Karena jika loader (alat berat) di TPA Kebon Kongok rusak, maka sampah di Kota Mataram tidak akan bisa terangkut.

Tahun lalu, pemkot sebenarnya akan melakukan kerja sama dengan Taiwan untuk menangani sampah. Merubah sampah menjadi energi dalam bentuk listrik. Tapi karena Covid-19, maka kerja sama itu ditunda. “Mudah-mudahan wali kota baru nanti bisa mengkomunikasikan kembali terkait penanganan sampah menjadi energi listrik ini,” ungkap dia.

Sementara itu, Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Edwin Zamroni menuturkan, pengangkutan sampah di TPS untuk dibawa ke TPA Kebon Kongok sudah normal. Pengangkutan dilakukan armada dua kali dari sebelumnya satu kali karena ada perubahan sistem anggaran.

“Kita sekarang angkut sampah dua kali di setiap TPS,” ujar dia. (jay/r3)

 

  Editor : Baiq Farida
#DLH Kota Mataram #H Mahmuddin Tura #Penutupan TPS #persoalan sampah